BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Hakikat Manusia dan Keingintahuannya
Dibanding dengan makhluk lain, jasmani manusia adalah yang
terlemah, sedangkan rohaninya atau akal budi dan kemauannya sangat kuat (Aly
dan Rahma, 1998:2).
Meski demikian manusia memiliki kemampuan berpikir dan
bernalar, dengan akal serta nuraninya memungkinkan untuk selalu berbuat yang
lebih baik dan bijaksana untuk dirinya maupun lingkungannya. Dengan demikian
manusia bisa mengatasi kelemahannya tersebut.
1.
Kelebihan
Manusia dari Penghuni Bumi Lainnya
Manusia
sebagai makhluk yang memiliki kelebihan dibandingkan dengan penghuni bumi
lainnya. Beberapa kelebihan manusia dari pada makhluk lainnya antara lain :
a)
Manusia
sebagai makhluk berpikir dan bijaksana (Homo sapiens) yang dicerminkan dalam
tindakan dan perilakunya terhadap lingkungannya.
b)
Manusia
sebagai pembuat alat (homo fiber). karena sadar akan
keterbatasan inderanya.
c)
Manusia
dapat berbicara (Homo Langues) baik secara lisan maupun tulisan.
d)
Manusia
dapat hidup bermasyarakat (Homo sosius) dan berbudaya (Homo Humanis).
e)
Manusia
dapat mengadakan usaha (Homo Economicus).
f)
Manusia
mempunyai kepercayaan dan beragama (Homo religious).
2.
Rasa
Ingin Tahu dan Terbentuknya Ilmu Pengetahuan Alam
Menurut
Purnama (2003:4) Ilmu Pengetahuan Alam bermula dari rasa ingin tahu, yang
merupakan suatu ciri khas manusia. Manusia mempunyai rasa ingin tahu tentang
apa yang ada di sekitarnya. Baik itu alam sekitarnya, bulan, bintang, dan
matahari yang dilihatnya, bahkan ingin tahu tentang dirinya sendiri.
Manusia
memiliki rasa ingin tahu (curiousity) yang tinggi. Dengan rasa
ingin tahu ini pengetahuan manusia dapat berkembang. Meskipun makhluk bumi
lainnya juga mempunyai rasa ingin tahu, tetapi rasa ingin tahunya itu hanya
dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan makanannya saja. Rasa ingin tahu mereka
tidak untuk menciptakan sesuatu yang melebihi kebutuhan makannya dan bersifat
menetap(idle curiousity). Berbeda dengan manusia yang mempunyai rasa
ingin tahu yang terus berkembang. Perkembangan rasa ingin tahu itu selalu
dimulai dengan pertanyaan “apa” (what) tentang segala sesuatu
yang dilihatnya. Kemudian dilanjutkan dengan pertanyaan “bagaimana” (how) dan
“mengapa” (why). Pertanyaan-pertanyaan seperti ini telah tumbuh
sejak anak-anak belajar di taman kanak-kanak.
Dengan adanya
kemampuan berpikir pada manusia, membuat rasa ingin tahu manusia terhadap
segala sesuatu di semesta ini terus berkembang. Jawaban terhadap berbagai
pertanyaan manusia terhadap berbagai gejala atau peristiwa yang terjadi di alam
tersebut akhirnya menjaddi ilmu pengetahuan.
3.
Sifat
Keingintahuan Manusia
Dengan rasa
ingin tahunya yang besar, manusia selalu berusaha mencari keterangan tentang
fenomena alam yang teramati. Untuk bisa menjawab pertanyaan dari rasa ingin
tahunya, manusia sering mereka-reka sendiri jawabannya. Meski jawaban seperti
ini kadang tidak logis, namun sering diterima masyarakat awam sebagai suatu
kebenaran. Pengetahuan semacam ini disebutpseudo science, yaitu
pengetahuan mirip sains tapi bukan sains.
Cara
memperoleh pengetahuan dengan pendekatan pseudo science (sains
semu) ini antara lain sebagai berikut.
a.
Mitos,
merupakan gabungan dari pengamatan, pengalaman dengan dugaan, imajinasi dan
kepercayaan.
b.
Wahyu,
merupakan komunikasi sang Pencipta dengan makhluk-Nya sebagai utusan yang
menghasilkan ilmu pengetahuan yang benar.
c.
Otoritas
dan Tradisi, yaitu pengetahuan yang telah lama ada dan dipergunakan oleh
pemimpin atau secara tradisi untuk menyatakan kebenaran.
d.
Prasangka,
yaitu berupa dugaan yang kemungkinannya bisa benar dan bisa salah.
e.
Intuisi,
merupakan kegiatan berpikir yang nonanalitik (tanpa nalar), tidak berdasarkan
pola pikir tertentu dan biasanya pendapat itu diperoleh dengan cepat tanpa
melalui proses berpikir terlebih dahulu.
f.
Penemuan
Kebetulan, yaitu pengetahuan yang awalnya ditemukan secara kebetulan dan
beberapa di antaranya adalah sangat berguna.
g.
Cara
Coba-Ralat (Trial and Error), adalah pengetahuan yang diperoleh
melalui cara coba-salah-coba-salah, tanpa dilandasi dengan teori yang relevan.
Pada zaman Yunani (600-200 SM) pola pikir manusia menjadi
lebih maju dariada pola pikir mitos. Pada masa ini terjadi penggabungan antara
pengamatan, pengalaman, dan akal sehat atau logika. Aliran ini disebut
“rasionalisme”, yaitu pertanyaan akan dijawab dengan logika atau hal-hal yang
masuk akal.
Selanjutnya juga dikenal metode deduksi, yaitu penarikan
suatu kesimpulan berdasarkan pada sesuatu yang bersifat umum. Beberapa waktu
setelahnya juga dikenal metode induksi, yang intinya adalah pengambilan
kesimpulan dilakukan berdasarkan data pengamatan atau eksperinmentasi yang
diperoleh.
B.
Perkembangan Fisik, Sifat dan Pikiran Manusia
1.
Perkembangan Fisik Manusia
Mulai dari
rahim ibu, masa setelah dilahirkan, sampai masa dewasa, tubuh manusia
mengalami pertumbuhan sedikit demi sedikit. Proses perubahan tersebut dimulai
dari bentuk sel yang sangat sederhana pada saat pembuahan, sampai ke bentuk sel
yang sangat kompleks. Janin di rahim induk terjadi dari hasil pembuahan sel
telur pejantannya. Sel telur yang telah dibuahi (zigot) tersebut akan mengalami
pembelahan sel, diferensiasi sel sehingga terbentuk janin, dan transformasi
bentuk tubuh.
Bentuk tubuh
manusia mengalami perubahan yang sistematis dan teratur sesuai dengan kodratnya
sejak bayi hingga dewasa. Pada masa puberitas, terjadi perubahan fisik yang
sangat signifikan, terutama pada tanda-tanda kedewasaan seperti tumbuhnya
rambut pada bagian tubuh tertentu dan fungsi genetaliannya. Pertumbuhan
morfologi wanita pada masa puberitas, yang tidak dialami laki-laki, adalah
pinggul membesar, pinggang meramping, terbentuknya payudara serta datangnya
siklus haid. Perbedaan bentuk tubuh dan genetalia tersebut dapat dimaklumi
karena secara biologis laki-laki dan perempuan mempunyai peran yang berbeda
dalam kehidupannya.
2. Perkembangan Sikap dan
Pikiran Manusia
Cara orang
dewasa mencari pengetahuan umumnya sangat dipengaruhi oleh pengembangan
pegetahuan pada masa kanak-kanak.
v Masa bayi (0-2 tahun),
disebut periode sensorimotorik. Pada periode ini perkembangan kecerdasan bayi
sangat cepat.
v Masa kanak-kanak (3-5 tahun),
disebut periode praoperasional. Pada periode ini dorongan keingintahuan anak
sangat besar, sehingga banyak orang mengatakan bahwa anak pad periode ini
adalah “masa bertanya”.
v Masa Usia sekolah (6-12 tahun),
disebut periode operasional nyata. Pada masa anak sangat aktif, ditandai dengan
perkembangan fisik dan motorik yang baik. Masa ini juga merupakan “masa tenang”
karena proses perkembangan emosional anak telah mendapat kepuasan maksimal
sesuai dengan kemampuannya.
v Masa remaja (13-20 tahun),
disebut periode preoperasional formal. Masa ini merupakan masa pertentangan
(konflik), baik dengan dirinya sendiri maupun dengan orang dewasa.
v Masa dewasa (> 20 tahun),
masa ini ditandai dengan kemampuan individu untuk berdiri sendiri. Mereka mampu
mengendalikan perilaku dengan baik, menempatkan dirinya sebagai anggota dalam
kelompok serta merupakan individu yang bertanggungjawab (Tim, 2007:9).
C.
Sejarah Pengetahuan Manusia
1.
Zaman
Kuno
Pengetahuan
yang dikumpulkan pada zaman kuno berasal dari kemampuan mengamati alam
sekitarnya. Selain pengetahuan itu juga juga didapat dari hasil percobaan yang
sifatnya spekulatif atau trial and error. Semua pengetahuan
yang diperoleh diterima sebagaimana adanya. Belum ada usaha untuk mencari
asal-usul dan sebab-akibat dari segala sesuatu.
2.
Zaman
Yunani
Pada zaman
ini perkembangan ilmu pengetahuan berkembang sangat pesat. Hal ini disebabkan
oleh kemampuan berpikir rasional dari bangsa Yunani. Pada tahap ini manusia
tidak hanya menerima pengetahuan seperti adanya saja, melainkan secara
spekulatif mencoba mencari jawab tentang asal-usul dan sebab-akibat dari segala
sesuatu. Beberapa pandangan dan pendapat itu adalah sebagai berikut :
a.
Thales
(624-548 SM)
Ahli filsafat
dan matematika, pelopor ari segala ilmu. Ia dianggap orang pertama yang
mempertanyakan dasar dari alam dan segala isisnya. Thales berpendapat bahwa
pangkal segala sesuatu adalah air: dari air asal segala sesuatu, kepada air
pula ia akan kembali. Selain itu dia juga menyatakan bahwa bintang mengeluarkan
cahaya sendiri, sedangkan bulan menerima cahaya dari matahari.
b.
Anaximenes
(588-526 SM)
Anaximenes
berpendapat bahwa zat dasar adalah udara. Segala zat terjadi dari udara yang
merapat dan merenggang, pendapat ini mungkin dihubungkan dengan kenyataan bahwa
manusia itu tergantung kepada pernapasan.
c.
Anaximender
(610-546 SM)
Anaximender
berpendapat langit dengan segala isinya itu mengelilingi bumi dan sebenarnya
langit yang nampal itu hanya separohnya.
d.
Heraklitos
(535-475 SM)
Heraklitos
menyatakan bahwa api merupakan asal dari segala sesuatu. Sebab api ini yang
menggerakkan sesuatu, menghidupkan alam semesta, yang berubah-ubah sifatnya di
dalam proses yang kekal. Yang kekal hanyalah perubahan, segala sesuatu adalah
mengalir.
e.
Pythagoras
(580-499 SM)
Pythagoras
mengemukakan empat unsur dasar yaitu bumi, air, udara, dan api. Dalam bidang
matematika menemukan dalil yang terkenal yaitu bahwa kuadrat panjang sisi
miring sebuah segitiga siku-siku sama dengan jumlah kuadrat panjang kedua sisi
siku-sikunya.
f.
Empedokles
(495-435 SM),
Empedokles
menerima empat unsur dasar menurut Pythagoras dan menyatakan bahwa sifat segala
benda terjadi dari percampuran keempat unsur itu dalam perbandingan yang
berbeda.
Keempat unsur
itu adalah sifat panas, dingin, basah, dan kering. Kering dan dingin membentuk
bumi, panas dan kering unsur pembentuk api,. Air dari basah dan dingin, udara
dari basah dan panas. Selain itu juga dinyatakan bahwa segala benda yang
sejenis akan tarik menarik, sedang yag berlawanan akan tolak menolak.
g.
Leukippos
dan Demokritos (460-370 SM)
Dalam mencari
unsur dasar dari segala sesuatu Leukipos da Demokritos mengemukakan teori atom
sebagai berikut: Zat memiliki bangun butir. Segala zat terdiri atas atom, yang
tidak dapat dibagi, tak dapat dimusnahkan, tak dapat diubah.
h.
Plato
(427-347 SM)
Plato
menyangkal teori atom, yang menganggap bahwa kebaikan dan keindahan itu timbul
dari sebab-akibat mekanik. Plato menyatakan bahwa pengetahuan yang benar adalah
yang sejak semula telah ada dalam alam pikiran atau alam ide. Apa yang nampak
oleh pancaindera hanyalah bayangan belaka. Pengalaman yang kekal dan benar
adalah yang telah dibawa oleh roh dari alam yang gaib.
i.
Aristoteles
(384-322 SM)
Aristoteles
berpendapat bahwa untuk mencari pegetahuan yang benar adalah dengan jalan
pikiran secara deduktif. Berbeda dengan Plato, Aristoteles menyangkal bahwa
pengetahuan yang benar itu berasal dari dunia yag gaib. Melainkan menghargai
pengetahuan yang diperoleh dan dibuktikan dengan pancaindera.
j.
Ptolomeus
(127-151 SM)
Ptolomeus
berpendapat bahwa bumi sebagai pusat jagad raya, bintang dan matahari
mengelilingingi bumi (geosentrisme). Planet beredar melalui orbitnya sendiri
dan terletak antara bumi dan bintang.
Pendapat dan
pandangan Aristoteles dan Ptolomeus ini berpengaruh sangat lama sampai
menjelang zaman modern, yaitu zaman Galileo. Geosentrisme digantin dengan
heliosentrisme (matahari sebagai pusat jagad raya).
3.
Zaman
Pertegahan
a.
Zaman
Alkimia (abad 1-2)
Ahli Alkimia
menerima pendapat empat buah unsur buah unsur dan bahkan menambahkan tiga lagi,
yaitu: air raksa, belerang dan garam. Pengertian unsur di sini lebih
dimaksudkan sebagai sifatnya daripada unsur itu sendiri.
Air
raksa = logam yang mudah menjadi uap.
Belerang
= mudah terbakar dan memberi warna.
Garam
= tak dapat terbakar dan bersifat tanah.
b.
Zaman
Latrokimia (latros = Tabib)
Tokoh di
zaman ini adalah Paracelsus (1439-1541), menerima tiga unsur: air raksa,
belerang dan garam yang dipandang bahwa:
Air
raksa = mengandung roh, jiwa.
Belerang
= mengandung semangat.
Garam
= merupakan tubuhnya.
Perkembangan
ilmu pengetahuan cendrung stagnan sampai tahun 1400. Semuanya masih didasarkan
atas pengetahuan Yunani terutama Aristoteles.Perkembangan yang lebih penting
dilakukan di Arab. Pada zaman keemasan Islam, pengaruh bangsa Arab sangat
menonjol. Orang Arab menerjemahkan, mempelajari, mengembangkan, dan memperekaya
karya-karya Yunani. Beberapa cendikiawan Islam di antaranya:
a)
Al
Khowarisi (825), Menyusun buku aljabar dan aritmatika yang kemudian
mendorong penggunaan sistem desimal.
b)
Omar
Khayam (1043-1132), merupakan ahli matematika dan astronomi.
c)
Abu
Ibnusina (atau Avicenna, 980-1137), merupakan orang yang mengembangkan
ilmu kedokteran. Ia juga menulis buku tentang kedokteran pada masa itu.
Secara garis besar sumbangan bangsa Arab dalam pengembangan
IPA adalah sebagai berikut:
v Menerjemahkan peninggalan
Yunani, mengembangkannya dan kemudian menyebarkannya ke Eropa dan selanjutnya
dikembangkan di Eropa.
v Mengembangkan metode eksperimen
sehingga memperluas pengamatan dalam lapangan kedokteran, obat-obatan,
astronomi, kimia, dan biologi.
v Memantapkan penggunaan sistem
penulisan bilangan dengan dasar dan ditulis dengan posisi letak, artinya nilai
suatu angka terletak pada letaknya.
4.
Zaman
Modern (abad XV sampai sekarang)
Pengetahuan
yang terkumpul sejak zaman Yunani dan abad pertengahan memang sudah banyak,
namun belum tersusun secara sistematis dan belum dianalisis menurut jalan
pikiran tertentu.
Metode
eksperimen pun mulai berkembang setelah ditemukannya alat yang makin sempurna
serta meningkatnya kemampuan berpikir. Berikut ini adalah tokoh yang memelopori
metode ekspermen.
a.
Roger
Bacon
Menyatakan
bahwa pada hakekatnya ilmu pengetahuan alam adalah ilmu yang berdasarkan kepada
kenyataan yang disusun dan dibentuk dari pengalaman, penyelidikan dan
percobaan. Matematiika merupakan dasar untuk berpikir dan merupakan kunci untuk
mencari kebenaran dalam ilmu pengetahuan.
b.
Leonardo
da Vinci
Pernah
menyatakan bahwa: Percobaan tidak mungkin sesat, yang tersesat adalah pandangan
dan pertimbangan kita.
c.
Francis
Bacon
Berpendapat
bahwa cara berpikir induktif merupakan satu-satunya jalan untuk mencapai
kebenaran: Hanya penyelidikan dan percobaan yang menumbuhkan pengertian
terhadap keadaan alam.
d.
Nicolas
Copernicus
Ahli astronomi dan matematika
dan pengobatan. Karyanya antara lain :
v Matahari adalah pusat dari
sistem tatasurya (heliosentrisme).
v Bumi mengelilingi matahari
sedangkan bulan mengelilingi bumi.
e.
Johannes
Keppler
Mengemukakan
tiga buah hukum tentang peredaran planet mengelilingi matahari.
v Orbit dari semua planet
berbentuk elips.
v Dalam waktu yang sama, maka
garis penghubung antara planet dan matahari selalu melintas bidang yag luasnya
sama.
v Kuadrat dari waktu yang
dibutuhkan sebuah planet untuk mengelilingi matahari adalah sebanding dengan
pangkat tiga dari jarak rata-rata planet itu dengan matahari
f.
Galileo
Galilei
Galileo
antara lain menemukan 4 hukum gerak, penemuan tata bulan planet Jupiter,
mendukung heliosentrisme dari Copernicus dan hukumnya Keppler. Selain itu ia
juga menegaskan bahwa bulan tidak datar dan penuh gunung. Dia juga mengklaim
bahwa planet Merkurius dan Venus tidak memancarkan cahaya sendiri dan juga
menemukan empat buah bulan pada planet Jupiter. Semua penemuannya ini didasarkan
atas pengamatan dengan alat teropong bintangnya.
Semua penemuan dan pendapat
yang telah dijelaskan di atas disusun berdasarkan hasil percobaan. Mulai
saat itu dianggap sebagai permulaan abad ilmu pengetahuan modern. Dianggap
demikian karena pengetahuan yangdiperoleh tidak hanya menggunakan cara berpikir
deduktif saja tetapi juga bertumpu pada pengetahuan yang telah diakui
kebenarannya dengan eksperimen. Dengan kata lain setelah manusia memadukan
kemampuan penalaran dengan eksperimen lahirlah IPA sebagai ilmu yang mantap
(Margono dkk, dalam Ahmadi dan Supatmo, 1991: 14).
BAB
III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Ilmu pengetahuan bermula dari rasa ingin tahu. Hewan juga
mempunyai “rasa ingin tahu” akan tetapi tidak berkembang atau disebut “idle
curiousity” atau “instinct.” Segala aktivitasnya didorong oleh instink itu
dengan tujuan untuk melestarikan hidupnya. Untuk itulah mereka mencari makan,
melindungi diri dan berkembang biak.
Manusia mempunyai rasa ingin tahu yang berkembang. Akumulasi
dari segala yang mereka dapat dari usahanya mendapatkan jawaban dari
keingintahuannya itu merupakan “pengetahuan”-nya. Pengetahuan manusia selalu
berkembang. Ia selalu tidak puas dengan fakta tetapi ingin tahu juga tentang
“apa,” “bagaimana” dan “mengapa” demikian.
Berlandaskan pada pengetahuan tentang beberapa rahasia alam
yang diperolehnya, manusia kemudian berusaha untuk menguasai dan memanfaatkan
pengetahuannya untuk memperbaiki kualitas dan pemenuhan kebutuhan hidupnya.
B.
SARAN
Manusia secara alamiah, dari zaman purba sampai zaman dewasa
sekarang memiliki rasa ingin tahu. Rasa ingin tahu tersebut menyebabkan
manusia menyelidiki persoalan-persolan yang akan menghasilkan jawaban.
Demikianlah pikiran manusia berkembang dari pikiran primitif sampai kepikiran
yang modern.
Dengan adanya ilmu pengetahuan dan rasa ingin tahu pada diri
manusia, maka diharapkan setiap individu mengembangkan rasa ingin tahu tersebut
menjadi penelitian-penelitian yang akan menghasilkan penemuan-penemuan yang
berguna bagi ilmu pengetahuan.
DAFTAR PUSTAKA
Mas’ud, ibnu dan joko paaryono,2008. IAD: Ilmu Alamiah Dasar. Bandung: Cv Pustaka Setia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar