Senin, 04 April 2016

ILMU KEALAMAN DASAR


BAB II
PEMBAHASAN
A.    Hakikat Manusia dan Keingintahuannya
Dibanding dengan makhluk lain, jasmani manusia adalah yang terlemah, sedangkan rohaninya atau akal budi dan kemauannya sangat kuat (Aly dan Rahma, 1998:2).
Meski demikian manusia memiliki kemampuan berpikir dan bernalar, dengan akal serta nuraninya memungkinkan untuk selalu berbuat yang lebih baik dan bijaksana untuk dirinya maupun lingkungannya. Dengan demikian manusia bisa mengatasi kelemahannya tersebut.
1.      Kelebihan Manusia dari Penghuni Bumi Lainnya
Manusia sebagai makhluk yang memiliki kelebihan dibandingkan dengan penghuni bumi lainnya. Beberapa kelebihan manusia dari pada makhluk lainnya antara lain :
a)      Manusia sebagai makhluk berpikir dan bijaksana (Homo sapiens) yang dicerminkan dalam tindakan dan perilakunya terhadap lingkungannya.
b)      Manusia sebagai pembuat alat (homo fiber). karena sadar akan keterbatasan inderanya.
c)      Manusia dapat berbicara (Homo Langues) baik secara lisan maupun tulisan.
d)     Manusia dapat hidup bermasyarakat (Homo sosius) dan berbudaya (Homo Humanis).
e)      Manusia dapat mengadakan usaha (Homo Economicus).
f)       Manusia mempunyai kepercayaan dan beragama (Homo religious).
2.      Rasa Ingin Tahu dan Terbentuknya Ilmu Pengetahuan Alam
Menurut Purnama (2003:4) Ilmu Pengetahuan Alam bermula dari rasa ingin tahu, yang merupakan suatu ciri khas manusia. Manusia mempunyai rasa ingin tahu tentang apa yang ada di sekitarnya. Baik itu alam sekitarnya, bulan, bintang, dan matahari yang dilihatnya, bahkan ingin tahu tentang dirinya sendiri.
Manusia memiliki rasa ingin tahu (curiousity) yang tinggi. Dengan rasa ingin tahu ini pengetahuan manusia dapat berkembang. Meskipun makhluk bumi lainnya juga mempunyai rasa ingin tahu, tetapi rasa ingin tahunya itu hanya dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan makanannya saja. Rasa ingin tahu mereka tidak untuk menciptakan sesuatu yang melebihi kebutuhan makannya dan bersifat menetap(idle curiousity). Berbeda dengan manusia yang mempunyai rasa ingin tahu yang terus berkembang. Perkembangan rasa ingin tahu itu selalu dimulai dengan pertanyaan “apa” (what) tentang segala sesuatu yang dilihatnya. Kemudian dilanjutkan dengan pertanyaan “bagaimana” (how) dan “mengapa” (why). Pertanyaan-pertanyaan seperti ini telah tumbuh sejak anak-anak belajar di taman kanak-kanak.
Dengan adanya kemampuan berpikir pada manusia, membuat rasa ingin tahu manusia terhadap segala sesuatu di semesta ini terus berkembang. Jawaban terhadap berbagai pertanyaan manusia terhadap berbagai gejala atau peristiwa yang terjadi di alam tersebut akhirnya menjaddi ilmu pengetahuan.
3.      Sifat Keingintahuan Manusia
Dengan rasa ingin tahunya yang besar, manusia selalu berusaha mencari keterangan tentang fenomena alam yang teramati. Untuk bisa menjawab pertanyaan dari rasa ingin tahunya, manusia sering mereka-reka sendiri jawabannya. Meski jawaban seperti ini kadang tidak logis, namun sering diterima masyarakat awam sebagai suatu kebenaran. Pengetahuan semacam ini disebutpseudo science, yaitu pengetahuan mirip sains tapi bukan sains.
Cara memperoleh pengetahuan dengan pendekatan pseudo science (sains semu) ini antara lain sebagai berikut.
a.       Mitos, merupakan gabungan dari pengamatan, pengalaman dengan dugaan, imajinasi dan kepercayaan.
b.      Wahyu, merupakan komunikasi sang Pencipta dengan makhluk-Nya sebagai utusan yang menghasilkan ilmu pengetahuan yang benar.
c.       Otoritas dan Tradisi, yaitu pengetahuan yang telah lama ada dan dipergunakan oleh pemimpin atau secara tradisi untuk menyatakan kebenaran.
d.      Prasangka, yaitu berupa dugaan yang kemungkinannya bisa benar dan bisa salah.
e.       Intuisi, merupakan kegiatan berpikir yang nonanalitik (tanpa nalar), tidak berdasarkan pola pikir tertentu dan biasanya pendapat itu diperoleh dengan cepat tanpa melalui proses berpikir terlebih dahulu.
f.       Penemuan Kebetulan, yaitu pengetahuan yang awalnya ditemukan secara kebetulan dan beberapa di antaranya adalah sangat berguna.
g.      Cara Coba-Ralat (Trial and Error),  adalah pengetahuan yang diperoleh melalui cara coba-salah-coba-salah, tanpa dilandasi dengan teori yang relevan.
Pada zaman Yunani (600-200 SM) pola pikir manusia menjadi lebih maju dariada pola pikir mitos. Pada masa ini terjadi penggabungan antara pengamatan, pengalaman, dan akal sehat atau logika. Aliran ini disebut “rasionalisme”, yaitu pertanyaan akan dijawab dengan logika atau hal-hal yang masuk akal.
Selanjutnya juga dikenal metode deduksi, yaitu penarikan suatu kesimpulan berdasarkan pada sesuatu yang bersifat umum. Beberapa waktu setelahnya juga dikenal metode induksi, yang intinya adalah pengambilan kesimpulan dilakukan berdasarkan data pengamatan atau eksperinmentasi yang diperoleh.
B.     Perkembangan Fisik, Sifat dan Pikiran Manusia
1.      Perkembangan Fisik Manusia
Mulai dari rahim ibu, masa setelah dilahirkan, sampai masa dewasa, tubuh manusia  mengalami pertumbuhan sedikit demi sedikit. Proses perubahan tersebut dimulai dari bentuk sel yang sangat sederhana pada saat pembuahan, sampai ke bentuk sel yang sangat kompleks. Janin di rahim induk terjadi dari hasil pembuahan sel telur pejantannya. Sel telur yang telah dibuahi (zigot) tersebut akan mengalami pembelahan sel, diferensiasi sel sehingga terbentuk janin, dan transformasi bentuk tubuh.
Bentuk tubuh manusia mengalami perubahan yang sistematis dan teratur sesuai dengan kodratnya sejak bayi hingga dewasa. Pada masa puberitas, terjadi perubahan fisik yang sangat signifikan, terutama pada tanda-tanda kedewasaan seperti tumbuhnya rambut pada bagian tubuh tertentu dan fungsi genetaliannya. Pertumbuhan morfologi wanita pada masa puberitas, yang tidak dialami laki-laki, adalah pinggul membesar, pinggang meramping, terbentuknya payudara serta datangnya siklus haid. Perbedaan bentuk tubuh dan genetalia tersebut dapat dimaklumi karena secara biologis laki-laki dan perempuan mempunyai peran yang berbeda dalam kehidupannya.
2. Perkembangan Sikap dan Pikiran Manusia
Cara orang dewasa mencari pengetahuan umumnya sangat dipengaruhi oleh pengembangan pegetahuan pada masa kanak-kanak.
v  Masa bayi (0-2 tahun), disebut periode sensorimotorik. Pada periode ini perkembangan kecerdasan bayi sangat cepat.
v  Masa kanak-kanak (3-5 tahun), disebut periode praoperasional. Pada periode ini dorongan keingintahuan anak sangat besar, sehingga banyak orang mengatakan bahwa anak pad periode ini adalah “masa bertanya”.
v  Masa Usia sekolah (6-12 tahun), disebut periode operasional nyata. Pada masa anak sangat aktif, ditandai dengan perkembangan fisik dan motorik yang baik. Masa ini juga merupakan “masa tenang” karena proses perkembangan emosional anak telah mendapat kepuasan maksimal sesuai dengan kemampuannya.
v  Masa remaja (13-20 tahun), disebut periode preoperasional formal. Masa ini merupakan masa pertentangan (konflik), baik dengan dirinya sendiri maupun dengan orang dewasa.
v  Masa dewasa (> 20 tahun), masa ini ditandai dengan kemampuan individu untuk berdiri sendiri. Mereka mampu mengendalikan perilaku dengan baik, menempatkan dirinya sebagai anggota dalam kelompok serta merupakan individu yang bertanggungjawab (Tim, 2007:9).
C.    Sejarah Pengetahuan Manusia
1.      Zaman Kuno
Pengetahuan yang dikumpulkan pada zaman kuno berasal dari kemampuan mengamati alam sekitarnya. Selain pengetahuan itu juga juga didapat dari hasil percobaan yang sifatnya spekulatif atau trial and error. Semua pengetahuan yang diperoleh diterima sebagaimana adanya. Belum ada usaha untuk mencari asal-usul dan sebab-akibat dari segala sesuatu.
2.      Zaman Yunani
Pada zaman ini perkembangan ilmu pengetahuan berkembang sangat pesat. Hal ini disebabkan oleh kemampuan berpikir rasional dari bangsa Yunani. Pada tahap ini manusia tidak hanya menerima pengetahuan seperti adanya saja, melainkan secara spekulatif mencoba mencari jawab tentang asal-usul dan sebab-akibat dari segala sesuatu. Beberapa pandangan dan pendapat itu adalah sebagai berikut :
a.       Thales (624-548 SM)
Ahli filsafat dan matematika, pelopor ari segala ilmu. Ia dianggap orang pertama yang mempertanyakan dasar dari alam dan segala isisnya. Thales berpendapat bahwa pangkal segala sesuatu adalah air: dari air asal segala sesuatu, kepada air pula ia akan kembali. Selain itu dia juga menyatakan bahwa bintang mengeluarkan cahaya sendiri, sedangkan bulan menerima cahaya dari matahari.



b.      Anaximenes (588-526 SM)
Anaximenes berpendapat bahwa zat dasar adalah udara. Segala zat terjadi dari udara yang merapat dan merenggang, pendapat ini mungkin dihubungkan dengan kenyataan bahwa manusia itu tergantung kepada pernapasan.
c.       Anaximender (610-546 SM)
Anaximender berpendapat langit dengan segala isinya itu mengelilingi bumi dan sebenarnya langit yang nampal itu hanya separohnya.
d.      Heraklitos (535-475 SM)
Heraklitos menyatakan bahwa api merupakan asal dari segala sesuatu. Sebab api ini yang menggerakkan sesuatu, menghidupkan alam semesta, yang berubah-ubah sifatnya di dalam proses yang kekal. Yang kekal hanyalah perubahan, segala sesuatu adalah mengalir.
e.       Pythagoras (580-499 SM)
Pythagoras mengemukakan empat unsur dasar yaitu bumi, air, udara, dan api. Dalam bidang matematika menemukan dalil yang terkenal yaitu bahwa kuadrat panjang sisi miring sebuah segitiga siku-siku sama dengan jumlah kuadrat panjang kedua sisi siku-sikunya.
f.       Empedokles (495-435 SM),
Empedokles menerima empat unsur dasar menurut Pythagoras dan menyatakan bahwa sifat segala benda terjadi dari percampuran keempat unsur itu dalam perbandingan yang berbeda.
Keempat unsur itu adalah sifat panas, dingin, basah, dan kering. Kering dan dingin membentuk bumi, panas dan kering unsur pembentuk api,. Air dari basah dan dingin, udara dari basah dan panas. Selain itu juga dinyatakan bahwa segala benda yang sejenis akan tarik menarik, sedang yag berlawanan akan tolak menolak.
g.      Leukippos dan Demokritos (460-370 SM)
Dalam mencari unsur dasar dari segala sesuatu Leukipos da Demokritos mengemukakan teori atom sebagai berikut: Zat memiliki bangun butir. Segala zat terdiri atas atom, yang tidak dapat dibagi, tak dapat dimusnahkan, tak dapat diubah.
h.      Plato (427-347 SM)
Plato menyangkal teori atom, yang menganggap bahwa kebaikan dan keindahan itu timbul dari sebab-akibat mekanik. Plato menyatakan bahwa pengetahuan yang benar adalah yang sejak semula telah ada dalam alam pikiran atau alam ide. Apa yang nampak oleh pancaindera hanyalah bayangan belaka. Pengalaman yang kekal dan benar adalah yang telah dibawa oleh roh dari alam yang gaib.
i.        Aristoteles (384-322 SM)
Aristoteles berpendapat bahwa untuk mencari pegetahuan yang benar adalah dengan jalan pikiran secara deduktif. Berbeda dengan Plato, Aristoteles menyangkal bahwa pengetahuan yang benar itu berasal dari dunia yag gaib. Melainkan menghargai pengetahuan yang diperoleh dan dibuktikan dengan pancaindera.



j.        Ptolomeus (127-151 SM)
Ptolomeus berpendapat bahwa bumi sebagai pusat jagad raya, bintang dan matahari mengelilingingi bumi (geosentrisme). Planet beredar melalui orbitnya sendiri dan terletak antara bumi dan bintang.
Pendapat dan pandangan Aristoteles dan Ptolomeus ini berpengaruh sangat lama sampai menjelang zaman modern, yaitu zaman Galileo. Geosentrisme digantin dengan heliosentrisme (matahari sebagai pusat jagad raya).
3.      Zaman Pertegahan
a.       Zaman Alkimia (abad 1-2)
Ahli Alkimia menerima pendapat empat buah unsur buah unsur dan bahkan menambahkan tiga lagi, yaitu: air raksa, belerang dan garam. Pengertian unsur di sini lebih dimaksudkan sebagai sifatnya daripada unsur itu sendiri.
Air raksa     =  logam yang mudah menjadi uap.
Belerang     =  mudah terbakar dan memberi warna.
Garam         =  tak dapat terbakar dan bersifat tanah.
b.      Zaman Latrokimia (latros = Tabib)
Tokoh di zaman ini adalah Paracelsus (1439-1541), menerima tiga unsur: air raksa, belerang dan garam yang dipandang bahwa:
Air raksa     =  mengandung roh, jiwa.
Belerang     =  mengandung semangat.
Garam         =  merupakan tubuhnya.
Perkembangan ilmu pengetahuan cendrung stagnan sampai tahun 1400. Semuanya masih didasarkan atas pengetahuan Yunani terutama Aristoteles.Perkembangan yang lebih penting dilakukan di Arab.  Pada zaman keemasan Islam, pengaruh bangsa Arab sangat menonjol. Orang Arab menerjemahkan, mempelajari, mengembangkan, dan memperekaya karya-karya Yunani. Beberapa cendikiawan Islam di antaranya:
a)      Al Khowarisi (825), Menyusun  buku aljabar dan aritmatika yang kemudian mendorong penggunaan sistem desimal.
b)      Omar Khayam (1043-1132),   merupakan  ahli matematika dan astronomi.
c)      Abu Ibnusina (atau Avicenna, 980-1137),  merupakan orang yang mengembangkan ilmu kedokteran. Ia juga menulis buku tentang kedokteran pada masa itu.
Secara garis besar sumbangan bangsa Arab dalam pengembangan IPA adalah sebagai berikut:
v  Menerjemahkan peninggalan Yunani, mengembangkannya dan kemudian menyebarkannya ke Eropa dan selanjutnya dikembangkan di Eropa.
v  Mengembangkan metode eksperimen sehingga memperluas pengamatan dalam lapangan kedokteran, obat-obatan, astronomi, kimia, dan biologi.
v  Memantapkan penggunaan sistem penulisan bilangan dengan dasar dan ditulis dengan posisi letak, artinya nilai suatu angka terletak pada letaknya.
4.      Zaman Modern (abad XV sampai sekarang)
Pengetahuan yang terkumpul sejak zaman Yunani dan abad pertengahan memang sudah banyak, namun belum tersusun secara sistematis dan belum dianalisis menurut jalan pikiran tertentu.
Metode eksperimen pun mulai berkembang setelah ditemukannya alat yang makin sempurna serta meningkatnya kemampuan berpikir. Berikut ini adalah tokoh yang memelopori metode ekspermen.
a.       Roger Bacon
Menyatakan bahwa pada hakekatnya ilmu pengetahuan alam adalah ilmu yang berdasarkan kepada kenyataan yang disusun dan dibentuk dari pengalaman, penyelidikan dan percobaan. Matematiika merupakan dasar untuk berpikir dan merupakan kunci untuk mencari kebenaran dalam ilmu pengetahuan.
b.      Leonardo da Vinci
Pernah menyatakan bahwa: Percobaan tidak mungkin sesat, yang tersesat adalah pandangan dan pertimbangan kita.
c.       Francis Bacon
Berpendapat bahwa cara berpikir induktif merupakan satu-satunya jalan untuk mencapai kebenaran: Hanya penyelidikan dan percobaan yang menumbuhkan pengertian terhadap keadaan alam.
d.      Nicolas Copernicus
Ahli astronomi dan matematika dan pengobatan. Karyanya antara lain :
v  Matahari adalah pusat dari sistem tatasurya (heliosentrisme).
v  Bumi mengelilingi matahari sedangkan bulan mengelilingi bumi.
e.       Johannes Keppler
Mengemukakan tiga buah hukum tentang peredaran planet mengelilingi matahari.
v  Orbit dari semua planet berbentuk elips.
v  Dalam waktu yang sama, maka garis penghubung antara planet dan matahari selalu melintas bidang yag luasnya sama.
v  Kuadrat dari waktu yang dibutuhkan sebuah planet untuk mengelilingi matahari adalah sebanding dengan pangkat tiga dari jarak rata-rata planet itu dengan matahari
f.       Galileo Galilei
Galileo antara lain menemukan 4 hukum gerak, penemuan tata bulan planet Jupiter, mendukung heliosentrisme dari Copernicus dan hukumnya Keppler. Selain itu ia juga menegaskan bahwa bulan tidak datar dan penuh gunung. Dia juga mengklaim bahwa planet Merkurius dan Venus tidak memancarkan cahaya sendiri dan juga menemukan empat buah bulan pada planet Jupiter. Semua penemuannya ini didasarkan atas pengamatan dengan alat teropong bintangnya.
Semua penemuan dan pendapat yang telah dijelaskan di atas disusun berdasarkan hasil percobaan.  Mulai saat itu dianggap sebagai permulaan abad ilmu pengetahuan modern. Dianggap demikian karena pengetahuan yangdiperoleh tidak hanya menggunakan cara berpikir deduktif saja tetapi juga bertumpu pada pengetahuan yang telah diakui kebenarannya dengan eksperimen. Dengan kata lain setelah manusia memadukan kemampuan penalaran dengan eksperimen lahirlah IPA sebagai ilmu yang mantap (Margono dkk, dalam Ahmadi dan Supatmo, 1991: 14).








































BAB III
PENUTUP

A.    KESIMPULAN
Ilmu pengetahuan bermula dari rasa ingin tahu. Hewan juga mempunyai “rasa ingin tahu” akan tetapi tidak berkembang atau disebut “idle curiousity” atau “instinct.” Segala aktivitasnya didorong oleh instink itu dengan tujuan untuk melestarikan hidupnya. Untuk itulah mereka mencari makan, melindungi diri dan berkembang biak.
Manusia mempunyai rasa ingin tahu yang berkembang. Akumulasi dari segala yang mereka dapat dari usahanya mendapatkan jawaban dari keingintahuannya itu merupakan “pengetahuan”-nya. Pengetahuan manusia selalu berkembang. Ia selalu tidak puas dengan fakta tetapi ingin tahu juga tentang “apa,” “bagaimana” dan “mengapa” demikian.
Berlandaskan pada pengetahuan tentang beberapa rahasia alam yang diperolehnya, manusia kemudian berusaha untuk menguasai dan memanfaatkan pengetahuannya untuk memperbaiki kualitas dan pemenuhan kebutuhan hidupnya.
B.     SARAN
Manusia secara alamiah, dari zaman purba sampai zaman dewasa sekarang  memiliki rasa ingin tahu. Rasa ingin tahu tersebut menyebabkan manusia menyelidiki persoalan-persolan yang akan menghasilkan jawaban. Demikianlah pikiran manusia berkembang dari pikiran primitif sampai kepikiran yang modern.
Dengan adanya ilmu pengetahuan dan rasa ingin tahu pada diri manusia, maka diharapkan setiap individu mengembangkan rasa ingin tahu tersebut menjadi penelitian-penelitian yang akan menghasilkan penemuan-penemuan yang berguna bagi ilmu pengetahuan.










DAFTAR PUSTAKA
Mas’ud, ibnu dan joko paaryono,2008. IAD: Ilmu Alamiah Dasar. Bandung: Cv Pustaka Setia   

ILMU SOSIAL DAN SOCIAL STUDIES


a.      STRUKTUR ILMU
1.      PENGERTIAN STRUKTUR ILMU
a)      “Ilmu” berasal dari bahasa ‘Arab “alima” sama dengan kata dalam bahasa Inggris “Science” yang berasal dari bahasa Latin Scio”atau“Scire”yang kemudian di Indonesiakan menjadi Sains.
b)      Thomson dalam Sidi Gazalba menggambarkan “Ilmu adalah pelukisan fakta-fakta pengalaman secara lengkap dan konsisten dalam istilah-istilah yang sesederhana mungkin,pelukisan secara lengkap dan konsisten itu melalui tahap pembentukan definisi, melakukan analisa, melakukan pengklassifikasian dan melakukan pengujian”(Sidi Gazalba, Jakarta 1973. h. 54-55). Jujun S. Suriasumantri menggambarkannya dengan sangat sederhana namun penuh makna “Ilmu adalah seluruh pengetahuan yang kita miliki dari sejak bangku SD hingga Perguruan Tinggi”(Jujun S Suriasumantri,1990, h. 19). Beerling, Kwee, Mooij dan Van Peursen menggambarkannya lebih luas “Ilmu timbul berdasarkan atas hasil penyaringan, pengaturan, kuantifikasi, obyektivasi, singkatnya, berdasarkan atas hasil pengolahan secara metodologi terhadap arus bahan-bahan pengalaman yang dapat dikumpulkan.”(Beerling, Kwee, Mooij, Van Peursen, Yogyakarta, 1990, h. 14-15). Sehingga dengan demikian, ilmu adalah kumpulan pengetahuan secara holistik yang tersusun secara sistematis yang teruji secara rasional dan terbukti empiris.
c)      Struktur ilmu dalam filsafat ilmu merupakan bagian yang penting dipelajari mengingat ilmu merupakan suatu bangunan yang tersusun bersistem dan kompleks. Melalui ilmu kita dapat menjelaskan, meramal dan mengontrol setiap gejala-gejala alam yang terjadi. Tujuan akhir dari disiplin keilmuan yaitu mengembangkan sebuah teori keilmuan yang bersifat utuh dan konsisten Makin tinggi tingkat keumuman suatu konsep maka makin teoritis konsep tersebut. Makin teoritis suatu konsep maka makin jauh penyataan yang dikandungnya. Ilmu-ilmu murni berkembang menjadi ilmu-ilmu terapan. Ilmu-ilmu terapan ini akan melahirkan teknologi atau peralatan-peralatan yang berfungsi sebagai sarana yang memberi kemudahan dalam kehidupan.
d)     Dengan mengetahui struktur dari ilmu ini maka dapat kita bedakan nantinya pemahaman dari sejauh mana kajian mengenai gejala-gejala alam. Bekal ini pula yang nantinya kita pergunakan dalam penelitian-penelitian yang akan kita lakukan. Tampaknya akal budi manusia tidak mungkin berhenti berpikir, hasrat mengetahui ilmuan tidak dapat padam, dan keinginan berbuat seseorang tidak bisa dihapuskan. Ini berarti perkembangbiakan pengetahuan ilmiah akan berjalan terus dan pembagian ilmu yang sistematis perlu dari waktu ke waktu diperbaharui.
e)      Filsafat adalah induk atau ibu ilmu pengetahuan (mater scientiarum). Ada hubungan timbal balik antara ilmu dan filsafat. Banyak masalah filsafat yang memerlukan landasan pada penelaah ilmiah, apabila pembahasannya tidak dikatakan dangkal dan keliru. Ilmu dewasa ini dapat menyediakan bagi filsafat sejumlah besar bahan yang berupa fakta-fakta yang sangat penting bagi perkembangan ide-ide filsafati yang tepat sehingga sejalan dengan pengetahuan ilmiah. Filsafat juga memegang peranan penting dalam membedakan batas-batas ilmu khusus yang semakin sempit.
f)       Pengetian sruktur ilmu secara umum
  Ilmu dalam pengertiannya sebagai pengetahuan merupakan suatu sistem pengetahuan sebagai dasar teoritis untuk tindakan praktis (Ginzburg) atau suatu sistem penjelasan mengenai saling hubungan diatara peristiwa-peristiwa yang terjadi.
Sistem pengetahuan ilmiah mencakup lima kelompok unsur,sebagai berikut:
1.      Jenis-jenis sasaran
2.      Bentuk-bentuk pernyataan
3.      Ragam-ragam proposisi
4.      Ciri-ciri pokok
5.      Pembagian sistematis

Pertama-pertama mengenai sasaran atau objek pengetahuan ilmiah itu perlu diberikan penjelasan yang memadai. Setiap cabang ilmu khusus mempunyai objek sebenarnya yang dapat dibedakan menjadi objek material dan objek formal. Objek material adalah fenomena dunia yang ditelaah oleh ilmu, sedang objek formal adalah pusat perhatian dalam penelaahan ilmuwan terhadap fenomena itu. Penggabungan antara objek material dengan objek formal sehingga merupakan pokok soal tertentu yang dibahas dalam pengetahuan ilmiah merupakan objek yang sebenarnya dari cabang ilmu yang bersangkutan. Pembagian objek-objek ini dikemukakan oleh George Klubertanz.
Objek material secara tak menentu dan dalam keseluruhannya menunjukkan pokok soal suatu pengetahuan (terutama pengetahuan demonstratif) dalam hubungan dengan proposisi- proposisi yang dapat dibuat tentangnya.
Aneka fenomena yang ditelaah  oleh segenap cabang ilmu khusus banyak sekali, mencapai ribuan sejalan dengan bertambahnya cabang- cabang ilmu itu. Suatu penggolongan yang sistematis dapat mengelompokkan segenap objek material pengetahuan ilmiah menjadi enam jenis, sebagai berikut:Ide abstrak
a)      Benda fisik
b)      Jasad hidup
c)      Gejala rohani
d)     Peristiwa sosial
e)      Proses tanda
Suatu fenomena ditentukan oleh pusat perhatian ilmuwan menjadi objek sebenarnya dari suatu cabang ilmu. Kumpulan pernyataan yang memuat pengetahuan ilmiah dapat mempunyai empat bentuk:
       I.            Deskripsi
Merupakan kumpulan pernyataan bercorak deskriptif dengan memberikan pemerian mengenai bentuk, susunan, peranan, dan hal-hal terperinci lainnya dari fenomena yang bersangkutan.
    II.            Preskripsi
Merupakan kumpulan pernyataan bercorak preskriptif dengan memberikan  petunjuk-petunjuk atau ketentuan-ketentuan mengenai apa yang perlu berlangsung atau sebaiknya dilakukan dalam hubungannya dengan objek sederhana itu. Bentuk in dapat dijumpai pada cabang-cabang ilmu sosial, ilmu administrasi,dan lain-lain.
 III.            Eksposisi pola
Bentuk ini merangkum pernyataan-pernyataan yang memaparkan pola-pola dalam sekumpulan sifat, ciri,  kecenderungan, atau proses lainnya dari fenomena yang ditelaah.
 IV.            Rekonstruksi Historis
Bentuk ini merangkum pernyataan-pernyataan yang berusaha menggambarkan atau menceritakan dengan penjelasan atau alasan yang diperlukan pertumbuhan sesuatu hal pada masa lampau yang jauh  lebih baik secara alamiah atau karena campur tangan manusia.
Pada cabang-cabang ilmu lainnya yang lebih dewasa, selain empat bentuk pernyataan tersebut terdapat pula proposisi-proposisi yang dapat dibedakan menjadi tiga ragam, yaitu:

1)      Asas ilmiah
Suatu asas atau prinsip adalah sebuah proposisi yang mengandung kebenaran umum berdasarkan fakta-fakta yang telah diamati. Sebuah prinsip dalam ilmu sosial misalnya ialah prinsip gaji yang sama yang dapat dijadikan suatu pedoman yang benar dalam pengangkatan para pegawai dan adminitrasi penggajian.
2)      Kaidah ilmiah
Suatu kaidah atau hukum dalam pengetahuan ilmiah adalah sebuah proposisi yang mengungkapkan keajegan atau hubungan tertib yang dapat diperiksa kebenarannya diantara fenomena sehingga umumnya berlaku pula untuk berbagai fenomena yang sejenis. Conohnya ialah hukum gaya berat yang terkenal dari Newton dan Boyle dalam ilmu kimia bahwa volume suatu gas berubah secara terbalik dengan tekanan bilamana suhu tetap dipertahankan sama.
3)      Teori Ilmiah
Suatu teori dalam scientific knowledge adalah sekumpulan proposisi yang saling berkaitan secara logis untuk memberi penjelasan mengenai sejumlah fenomena. Misalnya, mengenai teori Darwin tentang evolusi organisme hidup yang menerangkan bahwa bentuk-bentuk yang lebih sederhana dan primitif dalam perkembangan secara evolusioner sepanjang masa.Selanjutnya menurut Lachman menyatakan bahwa teori mempunyai peranan sebagai berikut:
a)      Membantu mensistematiskan dan menyusun data maupun pemikiran tentang data sehingga tercapai pertalian yang logis diantara aneka data yang semula kacau.
b)      Memberikan suatu skema atau rencana sementara mengenai medan yang semula belum dipetakan sehingga terdapat suatu orientasi
c)      Menunjukkan atau menyarankan arah-arah untuk penyelidikkan.

Oleh karena itu, kaidah ilmiah merupakan pernyataan yang bersifat prediktif dan teori ilmiah juga berupa proposisi yang meramalkan fenomena kadang-kadang timbul kekaburan dalam perbedaan antara kedua hal tersebut. Tidak setiap cabang ilmu khusus telah berhasil merumuskan kaidah-kaidah ilmiah dan teori-teori ilmiah untuk meramalkan maupun menerangkan aneka fenomena yang seluas mungkin. Teori merupakan tujuan dasar atau tujuan akhir dari ilmu.  Teori tidak bisa dijadikan cirri pokok bagi ilmu seumumnya. Cirri pokok pertama bersangkutan.
Sistematisasi mengandung arti bahwa pengetahuan ilmiah itu harus disusun menjadi semacam system yang memiliki bagian-bagian yang penting dan hubungan-hubungan yang bermakna. Cirri sistematisasi harus dilengkapi dengan cirri-ciri pokok selanjutnya, yaitu keumuman (generality), rasionalitas, obyektivitas, kemampuan diperiksa kebenarannya (verifiability), dan kemampuan menjadii milik umum (communality). Cirri generality (umum) menunjuk pada kualitas pengetahuan ilmiah untuk merangkung fenomena yang senantiasa makin luas dengan penentuan konsep-konsep yang paling umum dalam pembahasan sasarannya. Misalnya kalau ilmu politik akan menjelaskan tentang partai politik , penjelasan yang memuaskan ialah apabila pembahasan bisa beralih dari suatu partai politik tertentu dalam suatu negara khusus sampai pada semua partai politik dalam negara itu, dan terus lebih umum lagi sampai mencapai partai politik seumumnya disemua negara pada semua masa.
Cirri rasionalitas berarti bahwa ilmu sebagai pengetahuan ilmiah bersumber pada pemikiran rasional yang mematuhi kaidah-kaidah logika (barber). Batu penguji pengetahuan ilmiah ialah penalaran yang betul dan perbincangan yang logis tanpa melibatkan factor-faktor non-rasional seperti emosi sesaat dan kesukaan pribadi, dengan demikian ilmu juga memiliki sifat obyektifitas.
Cirri verifiabilitas berarti bahwa pengetahuan ilmiah harus dapat diperiksa kebenarannya,diselidiki kembali,atau diuji ulang oleh setiap anggota lainnya dari masyarakat ilmuwan. Kalau cirri objectivity menekankan ilmu sebagai interpersonal knowledge (pengetahuan yang bersifat antar-perseorangan), maka cirri pokok komunalitas menitikberatkan ilmu sebagai pengetahuan yang menjadi milik umum. Ilmu bukanlah hanya pengetahuan yang telah diterbitkan, melainkan pengetahuan tersebut setelah diuji secara objektif oleh para ilmuwan akan diterima secara umum menjadi kesepakatan pendapat rasional.
b.      PENGERTIAN DAN PERANAN FAKTA
1.      PENGERTIAN  FAKTA
Menurut Oxford Advanced Learner’s Dictionary of Current English (2000: 449-450), yang dimaksud fakta adalah sebagai berikut :
a)      Sesuatu yang digunakan untuk mengacu pada situasi tertentu atau khusus.
b)      Kualitas atau sifat yang aktual (nyata) atau dibuat atas dasar fakta-fakta, kenyataan, kenyataan fisik atau pengalaman praktis sebagaimana dibedakan dengan imajinasi, spekulasi, atau teori.

c)      Sesuatu hal yang dikenal sebagai yang benar-benar ada dan terjadi, terutama yang dapat dibuktikan oleh evidensi (bukti) yang benar atau dinyatakan yang benar-benar terjadi.
d)     Hal yang terjadi dapat dibuktikan oleh hal-hal yang benar, bukan oleh berbagai hal yang telah ditemukan.
e)      Suatu penegasan, pernyataan, atau informasi yang berisi atau berarti mengandung sesuatu yang dimiliki kenyataan objektif dalam arti luas adalah sesuatu yang ditampilkan dengan benar atau salah karena memiliki realitas objektif.     
Sedangkan menurut Helius Sjamsudin bahwa fakta umumnya erat hubungannya dengan jawaban atas apa, siapa, kapan, di mana, dan juga dapat berupa benda-benda (things) yang benar-benar ada atau peristiwa apa yang pernah terjadi pada masa lalu (Sjamsudin, 1996: 5).
Fakta harus mempunyai rumusan yang tajam, tertentu, tidak mengandung pertanyaan dan memiliki bukti sendiri (Goode, 1952: 7-8). Oleh karena itu, James A. Banks (1977: 84) mendefinisikan fakta sebagai kejadian dari berbagai hal atau peristiwa tertentu yang pada gilirannya menjadi data mentah atau pengamatan dari ahli ilmuan-ilmuan social.
2.      PERANAN FAKTA
Fakta berperan sebagai alat yang dijadikan oleh para sejarawan untuk kebutuhan penelitiannya. Para sejarawan memperoleh fakta-fakta tersebut bisa dari dokumen maupun ilmu-ilmu bantu sejarah lainnya seperti arkeologi, kronologi, dll. Dengan mengutip pendapat Pirandello, yang menganalogikan fakta ibarat karung goni baru dapat berdiri tegak setelah diisi sesuatu didalamnya, maka bagaimanapun keberadaan fakta itu, kehadirannya sangat tergantung atas kehendak sejarawan yang memilih dan menganggap relevan dengan kebutuhan penelitiannya. Karena untuk menjadikan sejarah penuh arti, tergantung pada seleksi dan hal ini pada gilirannya tergantung pada penetapan signifikasi kriteria untuk memilih yang lebih relevan dan untuk menolak yang kurang relevan. (Seixas, 1994: 281-282).
Dengan demikian, sejarawanlah yang lebih menentukan untuk berbicara dengan alasan-alasan tertentu untuk menjadikan suatu cerita sejarah, tentang seorang tokoh, peristiwa, benar tidaknya berbuat sesuatu, atas fakta-fakta yang ia seleksi sendiri. Namun, tidak berarti sejarawan itu menjadi diktator dan mengabaikan prinsip-prinsip kebenaran. Bukan keterangan sejarah (historical explanation) yang ideologis tanpa pertanggungjawaban yang rasional, namun sejarah ilmu pengetahuan yang selalu relevan dengan perkembangan zaman apa pun yang selalu ingin diusahakan oleh sejarawan.
Begitu pula dalam penjelasan sejarah, sejarawan dan guru sejarah tidaklah terbebas dari isi sumber-sumber dan fakta sejarah yang harus disampaikan. Sebab bagaimanapun seharusnya kebenaran faktual mengisyaratkan kebenaran teoritis (Cassier, 1970: 192; Supardan, 2000: 72). Hubungan sejarawan maupun ahli-ahli ilmu sosial dengan fakta pada hakikatnya setaraf, atau menurut istilah Carr (1985: 29) ibarat memberi dan menerima, keduanya saling membutuhkan.
Mengingat fakta itu memerlukan suatu penafsiran lebih lanjut oleh sejarawan maupun ilmu-ilmu sosial lainnya. Sejarawan dan ahli ilmu sosial lainnya perlu mengembangkan dan menyuarakan fakta agar dapat bercerita dalam koridor yang memiliki realitas objektif, namun tidak rigid, tidak mati, dan tetap ada artinya. Demikian juga sejarawan maupun ahli ilmu sosial lainnya, jika tidak ada fakta maka karya-karyanya tidak berguna, “tidak berakar dan sia-sia”. Sebuah fakta yang sederhana dapat berubah menjadi fakta yang sangat penting dan berkekuatan besar karena jaringan-jaringan yang terbentuk memiliki kaitan yang lebih jauh dan lebih besar lagi.
c.       PENGERTIAN DAN PERANAN KONSEP
1.      PENGERTIAN PERANAN KONSEP
Istilah konsep yang berkembang dimasyarakat awam hampir selalu dikaitkan dengan rancangan atau sesuatu yang belum selesai. Pemahaman yang demikian sebenarnya selalu sederhana dan menyimpang karena pengertian konsep yang begitu luas dan bukan mengenai  sesuatu yang berhungan dengan aktivitas yang belum maupun sudah selesai. Istilah konsep mengacu sebagai abstraksi yang bersifat konotatif dan denotatif. Dengan demikian, ruang lingupnya bersifat abstrak maupun konkrit dan riil. Di dunia ini baik itu yang kongkrit maupun abstrak, itu adalah konsep-konsep yang tak terhingga jumlahnya. Jadi kalau begitu apa konsep itu?
Menurut Schwab (1969: 12-14), konsep merupakan abstraksi, suatu konstruksi logis
yang terbentuk dari kesan, tanggapan, dan pengalaman-pengalaman kompleks. Sedangkan
menurut James A.Banks (1977: 85), yang menyatakan suatu konsep adalah suatu kata abstrak
atau frase yang bermanfaat untuk mengklasifikasikan atau menggolongkan suatu kelompok
berbagai hal, gagasan atau peristiwa. Dengan demikian, pengertian konsep menunjuk pada suatu absrtaksi, penggambaran dari suatu yang konkrit maupun absrtak ( tampak maupun tidak tampak ) dapat berbentuk pengertian atau difinesi ataupun gambaran mental, atribut, esensial dari suatu kategori yang memiliki ciri-ciri esensial relatif sama. Berbeda dengan fakta yang menekankan kekhususan, sedangkan konsep memiliki ciri-ciri umum (common characteristics) yang sudah tentu konsepnya lebih luas daripada fakta. Menurut Jack R. Fraenkel dalam Helping Student Think n Value Strategies for Teaching The Sosicial Studies di katakan bahwa sebenarnya konsep-konsep itu dalam kenyataannya tidak ada. Konsep itu berada dalam ide atau pikiran manusia. Semua realitas yang berada di sekeliling kita memasuki atau menyentuh indra-indra manusia sebagai informasi dari berbagai pangalaman. Kemudian, masukan-masukan indra (sensory input) tersebut diatur dan disusun dengan mengenakan simbol-simbol berdasarkan persamaan- persamaan esensial tersebut (Fraenkel, 1980: 58)  
Selanjutnya, Fraenkel (1980) mengklasifikasi jenis-jenis konsep atas 6 macam :
Konsep konjungtif, yaitu konsep yang berfungsi untuk menghubungkan (connective) dari keberadaan dua atau lebih atribut yang semuanya harus ada (Fraenkel, 1980: 58) Konsep disjungtif, mencerminkan adanya alternatif-alternatif yang beragam.  Konsep relasional, yang memiliki arti mengandung suatu hubungan khusus antara dua atribut yang dinyatakan secara eksplisit dengan bilangan tertentu.  Konsep deskriptif, adalah konsep yang menuntut jawaban tentang gambaran suatu benda. Konsep ini menuntut pemahaman karakteristik ataupun ciri-iri esensial yang sama dalam mengemukakan pendapat. Konsep valuatif, yaitu konsep yang berhubungan dengan pertimbangan baik ataupun buruk, salah ataupun benar, dsb.  Konsep campuran antara konsep deskriptif dan konsep valuatif, yaitu suatu konsep yang tidak hanya memberikan penjelasan tentang suatu karakteristik yang dimiliki oleh benda tersebut, tetapi juga sekaligus memberikan sikap ataupun penilaian terhadap pernyataan tersebut.

2.)PERANAN KONSEP
1.      Konsep itu berguna untuk melakukan efisiensi dan efektifitas bagi manusia
2.       Melalui konsep itupun adanya klasifikasi atas beberapa individu, karakteristik yang serupa kemudian diidentifikasi dan dicari perbedaan-perbedaannya.
3.       Konsep yang berfungsi untuk memudahkan kita dalam memecahkan masalah
4.      Konsep juga berguna untuk menjelaskan (explanasi) suatu yang dianggap rumit ataupun memerlukan keterangan yang cukup panjang dan rinci.
5.      Konsep juga berguna untuk mengkonseptualisasikan sesuatu secara cermat melalui simbol-simbol.
6.      Konsep berguna sebagai mata rantai penghubung ataupun katalisator antar disiplin ilmu


d.      PENGERTIAN DAN PERANAN GENERALISASI

 Menurut Banks (1977: 26;97), generalisasi adalah pernyataan hubungan dua konsep atau lebih. Pernyataan tersebut terbentang dari yang sangat sederhana ke yang sangat kompleks.  Menurut (Eggen dan Harder Kauchak, 1988: 58), generalisasi menghubungkan konsep satu sama lain, selanjutnya merupakan kesimpulan dari pengalaman kita. Generalisasi bahkan lebih bermanfaat di banding konsep, sebab generalisasi lebih mempu meringkas informasi di banding dengan yang konsep lakukan. Generalisasi menyatakan hubungan antara dua konsep atau lebih, sering mengidentifikasi penyebab dan efek, dapat digunakan untuk meramalkan suatu kejadian di masa depan yang dinyatakan dalam generalisasi.

              Dari pernyataan tersebut dapat dikemukan bahwa generalisasi merupakan pernyataan tentang hubungan antara konsep-konsep dan berfungsi untuk membantu dalam memudahkan pemahaman suatu maksud pernyataan itu, berfungsi mengidentifikasi penyebab dan pengaruhnya, bahkan dapat digunakan untuk memprediksi suatu kejadian yang berhubungan dengan pernyataan yang ada dalam generalisasi tersebut. Dalam arti, suatu generalisasi pun merupakan pernyataan yang sederhana sampai kepada yang lebih kompleks. Dengan demikian, generalisasi itu tidak hanya mendeskripsikan data, melainkan memberikan stuktur pada data tersebut.
             
Oleh karena itu, dapat juga dikatakan bahwa generalisasi adalah kesimpulan yang ditarik secara induktif mengenai dua hubungan fakta-fakta atau lebih yang melahirkan teori (Fuad Hasan, 1997: 10-11). Generalisasi pun merupakan pernyataan yang menjelaskan hubungan antara konsep-konsep yang berfungsi sebagai pembantu berfikir dan memahami, tidak sekadar mendiskripsikan data, tetapi juga memberikan struktur (Sjamsuddin, 1996: 19). Generalisasi dapat disusun dalam bentuk ruang lingkup yang sederhana sampai kepada yang luas dan kompleks. Oleh karena itu James A. Banks (1977: 99-101) membedakan tiga tingkat generalisasi, yaitu:
        i.            High Order Generalization disebut juga Laws atau Principles, yaitu generalisasi yang pemakaiannya secara universal
      ii.            Intermmediate Level Generalization, ialah generalisasi yang digunakan dikawasan tertentu dan kebudayaan tertentu
    iii.             Law Order Generalization, yaitu generalisasi yang digunakan atas data dari dua atau tiga sampel kecil.

      Ditinjau dari tipe-tipenye generalisasi menurut Fraenkel (1980: 74) dapat dibedakan menjadi empat macam, yaitu :
1.      Generalisasi deskriptif, yaitu suatu generalisasi yang hanya mendiskripsikan suatu hubungan yang ada
2.       Generalisasi kausal, yaitu suatu generalisasi yang menjelaskan hubungan sebab akibat terjadinya peristiwa
3.      Generalisasi korelatif, yaitu suatu generalisasi yang menunjukkan adanya satu sama yang lain
4.       Generalisasi kondisioner, artinya suatu generalisasi yang menyarankan apa yang akan terjadinya jika seandainya suatu kondisi khusus dilaksanakan, dengan demikian adanya suatu persyaratan khusus.



5.     PENGERTIAN DAN PERANAN TEORI

 Menurut Kerlinger (2000: 14), suatu teori adalah seperangkat konstruk (konsep), batasan dan proposisi yang menjadikan suatu pandangan sistematis tentang fenomena dengan mencari hubungan-hubungan antar variabel, dengan tujuan menjelaskan dan memprediksi gejala itu. Berbeda dengan Hollander(1967: 55) teori merupakan atas proporsi yang fungsional yang menyajikan hubungan variabel yang meliputi satuan fenomena. Begitupun jika dibandingkan dengan pendapat McDavid dan Harari (68:55) menurutnya istilah teori secara normal diberlakukan bagi pengintegrasian tatanan hipotesis yang lebih tinggi ke dalam jaringan sistematis yang mencoba untuk menguraikan dan meramalkan cakupan peristiwa yang lebih luas dengan membiarkan satu hipotesis menjadi berkualitas atau untuk menetapkan kondisi-kondisi itu dibawah yang lain yang akan menjadi sesuai. Sehingga dapat disimpulkan bahwa teori adalah rangkaian fakta-fakta dan konsep-konsep serta generalisasi-generalisasi, dipihak lain merupakan perkiraan tentang implikasi (akibat) dari rangkaian fakta-fakta, konsep-konsep, dan generalisasi-generalisasi tersebut yang sangat berhubungan.

Tidak semua para ahli pandai membuat dan menghasilkan teori-teori baru, disinilah mengapa orang yang berhasil dalam membuat teori sangat dihargai, mengingat teori merupakan bentuk tertinggi dari pengetahuan. Bahkan teori merupakan tujuan utama dari ilmu pengetahuan pada umumnya. Hal yang paling penting yang sama-sama dimiliki oleh para teoritikus bahwa mereka tidak semata-mata melukiskan kehidupan sosial atau menceritakan sejarah perkembangan sosial demi kehidupan sosial atau menceritakan perkembangan sejarah sosial itu sendiri. Mereka lebih berusaha membantu kita untuk melihat masyarakat/manusia dengan cara tertentu sehingga apa yang kita peroleh dengan membaca karya-karya mereka tidak hanya lebih banyak informasi mengenai kehidupan sosial yang kita dapat, melainkan sesuatu yang jauh lebih penting lagi, yaitu sebuah pemahaman yang lebih baik mengenai hakikat hubungan-hubungan sosial manusia (sosiologi).
              
Menurut Suppes (1974) dan Kerlinger (2000), mengemukakan bahwa ada lima peran teori:

1.      Berguna sebagai kerangka kerja untuk melakukan penelitian

2.       Teori memberikan suatu kerangka kerja bagi pengorganisasian butir-butir informasi tertentu

3.      Teori mengungkapkan kompleksitas peristiwa-peristiwa yang tampaknya sederhana

4.      Teori mengorganisasikan kembali pengalaman-pengalaman sebelumnya

5.      Teori berfungsi untuk melakukan prediksi dan kontrol











Daftar Pustaka

Husan, Said Hamid. 1996. PIS. Departemen Pendidikan dan Kebudayaaan. Direktoral Jendral Pendidikan Tinggi. Proyek Pendidikan Tenaga Akademik. Jakarta Depdiknas
Dr. H Dadang Supardan,Mpd. PIS. Sebuah Kajian Pendekatan Struktural
Kutipan Ahli :
 Schwab (1969: 12-14) ; Advanced Learner’s Dictionary of Current English (2000: 449-450)
(Sjamsudin, 1996: 5) ; (Goode, 1952: 7-8) ; James A. Banks (1977: 84) ; (Seixas, 1994: 281-282) ; (Cassier, 1970: 192; Supardan, 2000: 72) ; (Fraenkel, 1980: 58) ; (Eggen dan Harder Kauchak, 1988: 58) ; (Fuad Hasan, 1997: 10-11) ; Kerlinger (2000: 14) ; Hollander(1967: 55) ; McDavid dan Harari (68:55)