Kamis, 31 Maret 2016

ILMU SOSIAL DAN SOCIAL STUDIES

BAB II
PEMBAHASAN

A.    PENGERTIAN ,KARAKTERISTIK,DAN RUANG LINGKUP
a.      Pengertian  Sosiologi
Istilah sosiologi pertama kali dicetuskan oleh seorang filsuf asal Perancis bernama Auguste Comte dalam bukunya Cours de la Philosovie Positive. Orang yang dikenal dengan bapak sosilogi tersebut  menyebut sosiolog adalah ilmu pengetahuan tentang masyarakat. Kata sosiologi sebenarnya berasal dari bahasa Latin yaitu 'socius' yang berarti teman atau kawan dan 'logos' yang berarti ilmu pengetahuan.
Disebutkan oleh Auguste Comte di atas yang menyatakan sosiologi merupakan ilmu pengetahuan.Sebuah pengetahuan dikatakan sebagai ilmu apabila mengembangkan suatu kerangka pengetahuan yang tersusun dan teruji yang didasarkan pada penelitian yang ilmiah.Sosiologi dapat dikatakan sebagai ilmu sejauh sosiologi mendasarkan penelaahannya pada bukti-bukti ilmiah dan metode-metode ilmiah.
Sosiologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari jaringan hubungan antara manusia dalam bermasyarakat.Sedangkan secara luas sosiologi merupakan ilmu pengetahuan tentang masyarakat dimana sosiologi mempelajari masyarakat sebagai kompleks kekuatan, hubugan, jaraingan iteraksi, serta sebagai kompleks lembaga/penata.
Menurut para ahli
1.      Pitirin Sorokin (1928: 760- 761), mengemukakan bahwa sosiologi adalah suatu ilmu tentang timbal balik antara aneka macam gejala-gejala sosial, contohnya antara gejala ekonomi dan nonekonomi.
2.      Wiliam Ogburn dan Meyer F, Nimkoff ( 1959: 12-13 ) berpendapat bahwa sosiologi adalah penelitian secara ilmiah terhadap interaksi sosial dan hasilnya, yaitu organisasi sosial.
3.      Roucekj dan Werren ( 1962: 3 ) berpendapat bahwa sosiologi adalah ilmu tentang hubungan antara manusia dan kelompok-kelompoknya.
4.      J.A.A.van Doom dan C.J. Lammers ( 1964: 24 ) mengemukakan bawha sosiologi ilmu tentang struktur- struktur dan proses- proses kemasyarakatan yang bersifat setabil. 
5.      Meta Spencer dan Alex Inkeles ( 1982:4 )  mengemukakan bahwa sosiolgi ilmu tentang kelompok hidup manusia.
6.      David Popenoe ( 1983: 107-108 ) berpendapat bahwa sosiologi adalah ilmu tentang interaksi manusia dalam masyarakat sebagai suatu  keseluruhan.
7.      Selo Soemardjan dan Sulaeiman Soemardi (1982: 14 ) menyatakan bahwa sosiologi adalah ilmu tentang struktur sosial dan proses-proses sosial, termasuk perubahan-perubahan sosial.
Dengan demikian dari  beberapa definisi sosiologi ini, sosiologi sebagai disiplin ilmu tentang interaksi sosial, keleompok sosial, gejala-gejala sosial, organisasi sosial, struktur sosila, proses sosial, maupun perubahan sosial.
b.      Karakteristik Sosiologi                             
Karakteristik sosiologi menurut Soekanto ( 1986: 17 ) mencakup hal hal berikut:
1.      Sosiologi merupakan bagian dari ilmu sosial, bukan merupakan bagian ilmu pengetahuan alam maupun ilmu kerohanian. Perbedaan tersebut bukan semata-mata perbedaan metode, namun menyangkut perbedaan substansi, yang kegunanya untuk membedakan ilmu-ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan gejala-gejala alam dengan ilmu-ilmu pengetahuan yang berhubungan gejala-gejala kemasayarakatan.
2.      Sosiologi bukan merupakan disiplin yang normatif, melainkan suatu disipilin yang bersipat kategoris. Artinya, sosiologi membatasi dri pada apa yang terjadi pada saat ini, dan bukan mengenai apa yang semestinya terjadi atau seharusnya terjadi. Dengan demikian, sosiologi dapat dikategorikan sebagai ilmu murni (pure science), dan bukan merupakan ilmu terapan (applied science). Sebagai ilmu murni sosiologi bukan disiplin yang normatif. Artinya sosiologi membatasi diri pada apa yang terjadi saat ini, serta bukan mengenai apa yang terjadi seharunya terjadi.
v  Sosiologi bertujuan untuk menghasilkan pengertian-pengertian dan pola-pola umum (nomotetik).
v  Sosiologi merupakan ilmu sosial yang empiris, faktual, dan rasional. Dalam istilah sepencer dan Inkeles (1982: 4) dan Popenoe (1983: 5) mereka menyebutnya the science of the obvious atau jelas nyata.
v   Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang abstrak, bukan ilmu pengetahuan yang konkrit.
v   Sosiologi meruypakan ilmu pengetahuan yang menghasilkan pengertian-pengertian dan pola-pola umum. Karena dalam sosiologi meneliti dan mencari apa yang terjadi prinsip-prinsip atau hukum-hukum umum dari pada interaksi anatar manusia dan juga prihal sipat hakikat, bentuk, isi, dan stuktur dari masyarakat.
Dari penjelasan di atas dapat kita simpulkan bahwa sosiologi sebagai ilmu yang memfokuskan pada kajian pola-pola interaksi manusia, dalam perkembangannya sering kali lebih banyak dihubungkan dengan kebangkitan modernitas. Menurut Zygmunt Banuman (2000:1023) keterkaitan tersebut didasarkan alasan-alasan tertentu salah satunya adalah: mungkin satu-satunya deniminator umum dari sejumlah besar mazhab pemikiran dan stategi riset yang mengklaim mengandung sumber sosiologis adalah fokusnya pada masyarakat.
Sosiologi merupakan disiplin ilmu yang memiliki cakupan luas dan banyak cabang yang di persatukan, meskipun tidak terlalu kuat oleh strategi hermeneutika dan ambisi untuk mengkoreksi kepercayaan umum. Garis batas bidang tersebut mengikuti divisi fungsional serta lembaga di dalam organisasi masyarakat yang menjawab tuntunan  efektif dari bidang manajemen yang telah mapan
c.       Ruang Lingkup Sosiologi
Secara tematis, ruang lingkup sosiologi dapat dibedakan menjadi beberapa subdisiplin sosiologi, sperti sosiologi pedesaan (rural sociology), sosiologi industri (industrial sociology), sosiologi perkotaan (urban sociology), sosiologi medis (medical sociology), sosiologi wanita (woman sociology), sosiologi militer (military sociology), sosiologi keluarga (family socciology), sosiologi pendidikan (educational sociology), dan sosiologi seni (sociology of art).
1.      Sosiologi pedesaan (Rural sociology)
Jurusan yang pertama kali mengkhususkan sosiologi pedesaan muncul dari Amerika Serikat tahun 1930-an, kumudian muncul beberapa Akademik Land Grant yang dibentuk dalam wilayah kewenangan Departemen Pertanian Amerika Serikat untuk meneliti masalah pedesaan dan melatih ahli sosiologi serta ekstensionis pedesaan untuk kerja sama lembaga-lembaga pemerintah beserta organisasi tani (Hightower 1937).
2.      Sosiologi Industri (Industrial Sociology)
Kelahiran bidang ini mendapat inspirasi dari pemikira-pemikiran Karl Marx, Emile Durkheim, dan Max Weber, walaupun secara formal, sosiologi lahir dalam kurun waktu antara Perang Dunia I dan II, serta secara matang tahun 1970-an (Grint, 2000: 488). Dari pemikiran Karl Marx, setidaknya teori proletariat dari tumbuhnya alienasi, serta eksploitasi ekonomi, pengaruhnya sangat dirasakan pada saat perang dunia I dan II, manakala terjadi lonjakan pengangguran dan krisis ekonomi dunia, walaupun realitanya  pengaruh ini kurang dominan.kemudian gagasan Emile Durkheim yang ditulis dalam buku Division of Labour (1933), memerikan konstribusi yang berarti dalam sosiologi industri terutama dengan konsep dan teorinya tentang norma dan bentuk solidaritas sosial  organik dan mekaniknya. Sedangkan dari pemikiran Weber, Merupakan jantung dalam pembentukan sosiologi industri.
Sosiologi industri sejak tahun 1980-an terdapat empat tema,yaitu:
v  Sosiologi industri yang menekankan gaya tradisional yang patriarkat, yang memberikan peluang munculnya lini baru, yakni feminisme dalam riset.
v  Runtuhnya komunisme di Eropa Timur
v  Perkembangan teknologi informasi dan aplikasi-aplikasinya di bidang manufaktur serta perdagangan.
v  Asumsi bahawa pekerjaan dan produksi merupakan kunci identitas sosial tentang argumen-argumen bahwa pola-pola konsumsi merupakan sumber identitas individu (Hall, 1992: 114).

3.      Sosiologi Medis (Medical Sociology)
Sosiologi medis merupakan bagian sosiologi yang kajiannya memfokuskan pada pelestarian ilmu kedokteran, khususnya pada masyarakat modern (Amstrong, 2000: 643). Bidang ini berkembang pesat pada sejak tahun 1950-an sampai sekarang. Setidaknya ada dua alesan yang mendorong pesatnya perkembangan bidang ini.
v  Berhubungan dengan asumsi-asumsi dan kesadaran bahwa masalah yang terkandung dalam perawatan kesehatan masyarakat modern adalah sebagai bagian integral masalah-masalah sosial.
v  Meningkatnya minat terhadap pengeboatan dalam aspek-aspek sosial dari kondisi sakit (illnes), terutama berkaitan dengan pisikiatri (berhubungan dengan penyakit jiwa), pediatri (kesehatan anak), praktik umum (penngobatan keluarga), geriatrik (perawatan usia lanjut), dan pengobatan komunitas (Amstrong, 2000: 643-644).
Beberapa tulisan yang menghiasi kelahiran sosiologi medis tahun 1950-an adalah Journal of Health and Human Social Behavior. Dalam perkembangan selajutnya, khususnya tahun 1990-an, minat terhadap studi detail kehidupan sosial pun dilibatkan yang meneliti ekspresi dalam pengalaman sakit pasien. Pandangan pasien mengenai kondisi sakit ditelaah sebatas sebagai bahan tambahan dari perilaku sakit berdasarkan posisi pasien itu sendiri. Konsekuensi logis penerimaan pendapat tersebut yang sama bermangfaatnya dengan bidang medis adalah munculnya kesadaran bahwa pengetahuan medis tersebut dapat menjadi objek penting dalam sosiologi.
4.      Sosiologi Perkotaan (Urban Sociology)
Sosiologi urabn atau perkotaan adalah studi sosiologi yang menggunakan berbagai statistik diantara dalam kota-kota besar. Kajiannya terutama dipusatnkan pada studi wilayah perkotaan dimana zona indudtri, perdagangan, dan tempat tinggal terpusat. Praktik ini merupakan penggunaan tata ruang dan lingkungan kota besar dalam beberapa lokasi atau daerah miskin sebagai jawaban atas beberapa kultur,etnis, dan bahasa yang berbeda, suatu mutu hidip yang rendah, berbagai kelompok kesukuan yang berbeda dan untuk mengungkap suatu standar hidup rendah, terutama bahwa semua fenomena-fenomena sosial ke arah disorganisasi sosial.Sosiologi perkotaan baru dimuli di Eropa, perintisannya sejak tahun 1920-an dan 1930-an walaupun resminya sejak awal tahun 1970-an yang kemudia menyebar ke berbagai wilayah khususnya Amerika serikat.pada tahun 1970-an.selama dua puluh tahun sejak pengenalannya dari barat,dapat dibagi menjadi tiga tahapan.
v  Periode dari 1977-1985, ketika sosiologi urban prancis, terutama sekali teori Manuael Castell peryataannya sangat berpengaruh.
v  Dari 1986-1992, memusatkan pada teori pergerakan sosial dsan kensep global di kota besar dalam suatu konteks pembaruan, terutama kota-kota di jepang.
v  Dari 1992 sampai sekarang, ditandai oleh suatu perubahan bentuk sosiologi perkotaan dalam suatu teori rugan kemayarakatan di bawah globalisasi yang telah begitu besar memengaruhi pekerjaan David Harvey (Kazutaka Hasimoto, 2002). Beberapa tema yang relevan dalam kajian sosioogi urban tersebut, di antaranya populasi, geopolitk, ekonomi, dan lain-lain.
Mazhab Chicago adalah mazhab yang berpengaruh besar dalam studi sosiologi perkotaan ini, setelah mempelajari k ota kota besar pada awal abad ke-20 dan 21. Mazhab Chicago mash memiliki peranan yang sangat penting. Banyak dari penemuan mereka yang berharga telah menepatkan pengaruh mazhab tersebut sehingga masih dominan. Bahkan belakangan ini telah berkembang Sosiologi Perkotaan Baru di bawah pengaruh tulisan Mark Gonttidiener dan Ray Hutchison (2006). Yang menyajikan teks terobosan mereka dalam suatu edisi baru ketiga. Buku tersebut diorganisir secara terpadu perspektif paradigma sociospatial yang mempertimbangkan peran yang dimiliki oleh faktor-faktor sosial, seperti ras, kelas, jenis kelamin, gaya hidup, ekonomi, kultur dan politik pada pengembangan daerah metropolitan.
5.      Sosiologi Wanita (Woman Socology)
Lahir dan berkembangnya sosiologi wanita, di mana sejarah perintisnya sejalan dengan perkembangan gerakan feminisme yang dipolopori oleh Mary Wollstonecraft dalam bukunya A Vindication of the Ringt of Woman (1779),Kendati akar-akar historinya dapat dilacak sejalan lahirnya sosiologi sebagai disiplin akademik. Sosiologi wanita merupakan suatu prespektif meyeluruh tentanng keanekaragaman pengalaman yang terstuktur bagi kaum wanita, dengan mendefinisikan sosiologi wanita dalam arti pola-pola ketidakadilan yang terstuktur, khususnya kerangka stratifikasi gender, yang dilakukan oleh kaum wanita ialah mengembangkan suatu sosiologi oleh dan unuk wanita (Ollenburger dan Moore, 1996).
Dilihat dari prspektif pendorong  teori sosiologi wanita tersebut, terdiri atas tiga kelompok kontributor sosiologi utama yang terpilih.
v  Kelompok teoritis positivis atau fungsionalis, menegaskan bahwa tatanan alamiah dominasi laki-laki sebagai suatu berbedaan terhadap argumen-argumen mengenai hak-hak kaum wanita.
v  Kelompok para teoritis konflik, melukiskan sistem-sistem penindasan yang secara sistematis membatas kaum wanita.
v  Kelompok alternatif, yakni klompok aktivis karya sosial dan interaksionis.

6.      Sosiologi Militer (Military Sociology )
Bidang ini menyoroti angkatan bersenjata sebagai suatu organisasi bertipe khusus dengan fungsi sosial spesifik (Bredow, 2000: 664). Fungsi-fungsi tersebut bertolak dari suatu tujuan organisasi keamanan dan sarana-sarananya, kekuatan serta kekerasan. Terdapat lima bidang utama kajian sosiologi militer.
v  Problem organisas internal yang menganalisis proses-proses dalam klompok kecil dan ritual militer dengan tujuan untuk mengidentifikasi problem disiplin dan matvasi, serta mengurakan cara-cara subkultrul militer dibentuk.
v  Problem organisasional internal dalam pertempuran, di mana dalam hal ini dianalisis termasuk seleksi para petingi militer, kepangkatan, dan evaluasi motivasi pertempuran.
v  Angkatan bersenjata dan masyarakat yang mengaji tentang citra profesi yang berkaitan dengan dampak berubahan sosial dan teknologi, profil rekutmen angkatan bersenjata, problem pelatihan dan pendidikan tentara serta peran wanita dalam angkatan bersenjata.
v  Militer dan politik. Dalam hal ini, dianalisis ada suatu perbandingan bahwa pada demokrasi Barat riset milter, terfokus pada kontrol politik terhadap jaringan militer, kepentingan ekonomi, dan administrasi lainnya.
v  Angkatan bersenjata dalam sistem internasional. Dalam hal ini, dianalisis dalam aspek-aspek keamanan nasional dan internasional, diseratai peralatan atau perlengkapan dan pengendalianya, serta berbagai operasi pemeliharaan perdamaian internasional.
7.      Sosiologi Keluarga (Family sociology)
Mempelajari pembentukan dan perkembangan keluarga, bentuk keluarga, fungsi dan struktur keluarga, arah perkembangan keluaraga pada masa mendatang, permasalahan yang dihadapi keluarga serta penyelesaiaannya, masalah penyimpangan hubungan dengan sosialisasi,disorganisasi keluarga, dan masalah keluarga berncana. Mencakup hubungan keluarga dengan sistem keluarga lainnya, seperti sistem pendidikan, ekonomi. Pemerintahan, hubungan keluarga dengan sistem nilai dan organisasi lainnya, serta implikasinya terhadap angkota keluarga.
8.      Sosiologi Agama
Sosiologi agama merupakan sosiologi studi sosiologis yang mempelajari studi ilmu budaya secara empiris, propan, dan positif yang menuju kepada praktik, struktur sosial, latar belakang historis, pengembangan, tema universal, dan peran agama dalam masyarakat (Goddijn, 1966: 36). Sosologi agama merupakan cabang dari sosiologi umum yang bertujuan untuk mencari keterangan ilmiah tentang masyarakat agama khususnya. Ditinjau dari sejarahnya, printisan sosiologi agama sebenanya sejak lama dan hampir seusia dengan sosiologi itu sendiri. Pengajian masalah agama secara ilmiah dan sistematis baru dilakukan sekitar tahun 1900-an hingga pertengahan abad ke-20. Mulai saat itu muncullah buku-buku sosiologi agama yang dikenal dengan priode sosiologi agama klasik yang dipolopri Emil Durkheim(1858-1917), seoranng perintis sosiologis dari prancis dalam bukunyaThe Elementary froms of Relegious Life dan Max Weber (1864-1920) seorang sosiolog dari jerman dalam karyanya The Socilogy of Religion, keduanya dikenal sebagai pendiri sosiologi agama. Dalam perkembangnnya, sosiologi agama memiliki empat mazhab, yakni klasik, positivisme, teori konflik, dan fungsisonalisme (Hendroppuspita, 1983: 24).
9.      Sosiologi Pendidikan (Sosilogy of Education)
Merupakan bidang kajian sosilogi yang perintisnya selalau dengan sosiolog pendidikan bernama Lester Frank Ward pada tahun 1883, yang menegaskan bahwa untuk memperbaiki masyarakat diperlukan pedidikan (Ballantine, 1983: 11). Selanjutnya, Ward menegaskan bahwa perbedaan kelas yang terjadi pada masyarakat bersumber kepada perbedaan pemilikan kesempatan, terutama kesempatan dalam memeperoleh pendidikan. Sebab perbedaan pemilikan kesempatan untuk memperoleh pendidikan tersebut mengarah kepada monpoli pemilikan sumber-sumber sosial maupun keadilan. Dengan berasumsi bahwa pada dasarnya manusia memiliki kapasitas belajar yang sama. Bidang-bidang kajian materi sosilogy of education meliputi.
v  Hubungan sistem pendidikan dengan sistem sosial lain
v  Hubungan sekolah dengan komunitas sekitarnya
v  Hubungan antarmanusia dalam sistem pendidikan
v  Pengaruh sekolah terhadap prilaku anak didik (Pavalko, 1976: 14-16).
10.  Sosiologi Seni
Istilah sosiologi seni (socilogy of art) sering digunakan dari berbagai seni literatul sedanngkan, sosiologi seni visual relatif jarang dikembangkan dibandingkan sosiologi literatur, drama maupun filem. Implikasinya, sipat generik dari bidang kajian ini mau tidak mau menimbulkan kesulitan dalam analisisnya karena tidak selalu terdapat hubungan linear antara musik dan novel dengan konteks atau polotiknya (Wolff, 2000: 41). Namuan demikian, sosiologi seni dapat dikatakan wilayah kajian yang cair karena didalamnya tidak suatau model analisis atau teori yang dominan.
Walaupun sosiologi di awal kelahiranya pada abad ke-19 sangat dipengaruhi oleh pemikiran-pemikiran yang bbersifat positivistik, khususnya bagi pendiroinya Auguste Comte, namun dalam pendekatan sosiologi tidaklah absolut bersifat kuantitatif, melainkan juga dapat menggunakan pendekatan kualitatif (Soekanto, 1986: 36). Beberapa pendekatan yang banyak digunakan di Eropa dan Amerika memang ada perbedaan, karena pendekatan sosiologi seni produksi- budaya yang sering mendapatkan keritik karena dianggap mengabaykan produk budaya itu sndiri. Pendekatan produksi-budaya (production of culture) memfokuskan pada masalah hubungan sosial di mana karya seni itu diprodusi. Kebanyakan yang menjadi fokus kajiannya di banyak negara, kecuali di Inggris (studi literatur), yakni pada seni pertujukan yang menyajikan kompleksitas interaksi sosial yang dianalisis

B.     PENDEKATAN, METODE,TEKNIK,ILMU BANTU , DAN JENIS –JENIS PENELIATIAN
1.      Pendekatan
Pendekatan sosiologi adalah suatu landasan kajian sebuah studi atau penelitian untuk mempelajari hidup bersama dalam suatu masyarakat. Dalam kajian Sosiologi Pendididikan kita akan menggunakan beberapa pendekatan (Approach) yaitu:
v  Pendekatan Kuantitatif yaitu suatu pendekatan yang mengutamakan bahan dan keterangannya menggunakan angka sehingga gejala-gejalan yang di teliti dapat diukur dengan menggunakan skala, indeks, table, dan formula yang menggunakan statistik.
v  Pendekatan Kualitatif yaitu suatu pendekatan yang selalu dikaitkan dengan epistomologi interperatif dengan menekankan pada makna-makna yang terkandung di dalamnya.
v  Pendekatan Indvidu (The Individu Approachyaitu pendekatan yang memperhatikan faktor individu secara utuh meliputi watak, intelegensi, psikologi, dan kemampun psikomotorik. Untuk dapat mengerti tata kehidupan masyarakat (kelompok) perlu dibahas tata kehidupan individu yang menjadi pembentuk mayarakat itu, jikalau kita dapat memahami tingkah aku individu satu persatu bagaiman cara berfikirnya, perasaannya, kemampuannya, perbuatnnya,sikapnya dan sebagainnya atau tegasnya watak individu, bagaimana mefasilitasi individu, begitulah seterusnya.
v  Pendekatan Sosial (The Sosial Approachyaitu pendekatan yang memperhatikan faktor lingkungan sebagai lingkungan tinggal induvidu dalam perkembangannya.  Titik pangkal dari pendakatn social ialah mayarakat dengan berbagi lembaganya, kelompok-kelompok dengan berbagai aktivitas. Secara konkrit pendekatan social ini membahas aspek-aspek atau komponen dari pada kebudayaan manusia, misalnya keluarga, tradisi, adat istiadat, moralitas, norma-norma sosialnya dan sebagaimana. jadi segala sesuatu yang dianggap produk bersama, milik bersama adalah masyarakat.
v  Pendekatan Interaksi (The Intraction approach) yaitu pendekatan dengan memperhatikan pola hubungan antara individu dalam lingkungannya. Di dalam pendekatan interaksional kita memperhatikan faktor-faktor individu dan sosial. Dimana individu dan masyarakat saling mempengaruhi dalam hubungan timbal balik antara individu dan masyarakat. Yang mana interaksi yang terjadi mempunyai kekuatan saling membentuk dan mempengaruhi dalam rangka saling menyempurnakan.
Macam-macam Interaksi Sosial:
Dilihat dari sudut subjeknya, ada tiga macam Interaksi Sosial yaitu:
ü  Interaksi antara orangn perorangan
ü  Interaksi antar orang dengan kelompoknya dan sebaiknya
ü  Interaksi antar kelompok
a.       Dilihat dari segi caranya, ada 2 macam interksi sosial:
1)      Interksi langsung (Dirrect Interction) yaitu interaksi fisik, seperi berkelahi, hubungan seks/kelamin dan sebagainya.
2)      Interksi simbolik (Symbolik Interaction), yaitu interakasi dengan mempergunakan bahasa (lisan/tertulis) dan simbol-simbol lain (isyarat) dan lain sebagainya.
3)      Menurut bentuknya, selo sumardjan membagi interaksi menjadi empat, yaitu:
v  Kerjasama (coopertion)
v  Persaingan (competition)
v  Pertikaian (conflict)
v  Akomodasi (accomodation) yaitu bentuk penyelesaian dari pertikaian
Masyarakat indonesia termasuk tipe masyarakat kooperatif, dengan cirinya yang khas yaitu "Gotong Royong"
2.      Metode
Para ahli sosiologi dalam penelitianya banyak menggunakan bebrapa metode penelitian, diantaranya yaitu:
v  Metode Deskrptif sering disebut dengan metode empiris yang menekankan pada kajian masa kini. Secara singkat metode ini yaitu suatu metode yang berupaya mengungkap pengejaran atau pelacakan pengetahuan. Metode ini dirancang untuk menemukan apa yang sedang terjadi, tentang siapa, dimana, dan kapan. Dengan demikian, dalam metode ini pun termasuk metode survey dengan jumlah sampel yang begitu banyak mengungkap dan mengukur sikap. Literary Digest (1936).
v  Metode Ekspalantor merupakan bagian metode empiris. Popenoe (1983: 28) mengemukakan bahwa jika saja dalam deskriptif lebih banyak bertanya tentang apa, siapa, kapan, dan dimana.dalam studi ekspalantor lebih banyak menjawab mengapa dan bagaimana. Oleh karena itu, metode ini bersifat menjelaskan atas jawaban dari pertanyaan “mengapa” dan “bagaimana”.
v  Metode historis Komparatif menekankan pada analisis atas peristiwa-peristiwa masa silam untuk merumuskan prinsif-prinsif umum, yang kemudian digabungkan dengan metode komparatif, dengan menitikberatkan pada perbandingan antara berbagai masyarakat beserta bidangnya untuk memperoleh perbedaan dan persamaan, serta sebab-sebabnya.
v  Metode Studi Kasus merupakan suatu penyelidikan mendalam darin suatu individu, kelompok, atau institusi untuk menetukan variabel itu, dan hubunganya diantara  variabel memengaruhi status atau prilaku yang saat itu menjadi pokok kajian (Fraenkel dan Wallen, 1993: 548).
v  Metode Survei salah satu bentuk dari penelitian yang umum dalam ilimu-ilmu sosial
3.      Teknik Pengumpulan Data
Beberapa tekinik pengumpulan data yang banyak digunakan dalam kajian sosiologi, diantaranya adalah sosiometri, wawancara, observasi, dan observasi partisipan.
a.       Sosiometri
Dalam sosiometri berusah meneliti masyarakat secara kuantitatif dengan menggunakan skala dan angka untuk mempelajari hubungan antara manusia dalam suatu masyarakat. Bidang ini merupakan bidang keahlian psikologi yang mempelajari, mengukur, dan membuat diagram hubungan sosial yang ada pada kelompok kecil (Horton dan Hunt, 1991: 235).
b.      Wawancara atau Interview
Teknik ini adal;ah situasi peran antara pribadi yang bertemu muka (face to face) ketika seseorang, yakni pewawancara mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang dirancang untuk memperoleh jawaban yang relevan dengan masalah penelitian kepada seseorang yan diwawancarai atau responden (Supardan, 2004: 159).
c.       Observasi
Observasi adalah pengamatan yang diperoleh secara langsung dan teratur untuk memperoleh data penelitian.
d.      Observasi Partisipan
Bentuk pengamatan yang menyeluruh dari semua jenis metode atau strategi (Patton, 1980). Dalam hal ini, peneliti turut serta dalam berbagai peristiwa dan kegiatan sesuai dengan yang dilakukan oleh subjek penelitian.

4.      Ilmu Bantu Sosiologi                                                   
Dalam kajian sosiologi memerlukan banyak ilmu bantu yang dapat menopang kelancarandan kedalaman kajian sosiologi tersebut. Beberapa ilmu bantu yang sering digunakan dalam sosiologi seperti statistik, psikologi, etnologi, arkeologi, dan antropologi. Di samping ilmu-ilmu sosial  adapun ilmu-ilmu lainya seperti sejarah, ekonomi, antropologi, politik, hokum maupun gerografi.
a.       Statistik
Statistik sangat diperlukan dalam ilmu sosiologi terutama dalam perhitungan-perhitungan yang menyangkut pendekatan kuantitatif agar hasilya akurat, lebih valid, dan terukur.
b.      Psikologi
Psikologi sangat diperlukan dalam kajian sosiologi karena dalam psikologi dapat diperoloeh keterangan, baik latar belakang seseorang berperilaku maupun proses-proses mental yang diperlukan keterangan-keteranganya.
c.       Etnologi
Etnologi adalah ilmu tentang adat istiadat dalam suatu bangsa. Ilmu ini sangat diperlukan dalam ilmu sosiologi karena dalam sosiologi menyangkut tradisi-tradisi yang berkembang.
d.      Arkeologi
Arkeologi adalah ilmu yang mempelajari tentang peninggalan ataupun kebudayaan klasik dari suatu bangsa yang telah silam. Peninggalan dan kebudayaan klasik ini sangat penting karena kebudayaan tua sekalipun pada hakikatnya adalah hasil usaha bersama dari suatu masyarakat yang di telitinya.
5.      Jenis Penelitian Sosiologi
a)      penyelidikan lengkap: Dalam penelitian ini berusaha untuk dicari secara teliti segala fakta-fakta dan kemudian ditarik kesimpulan-kesimpulan yang diambil dari fakta-fakta tersebut. Dengan demikian sesudah membuat definisi tentang substansi kajian yang kemudian meneliti kebenaran maupun kekurangan hipotesis-hipotesis itu, peneliti juga harus mempertanyakan fakta apa yanag ada dalam kajian itu. Selanjutnya setelah fakta-fakta diperiksa secara teliti, juga peneliti harus menyimak pendapat-pendapat para ahli lainnya tentang masalah yang sama, walaupun pendapat-pendapat tersebut tidak akan mempengaruhi kebenaran/kesalahan dari temuan yang diselidiki tersebut. Namun selama penelitian ilmiah tersebut dilakukan, peneliti harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut: Betulkah bahwa kesimpulan itu sesuai dengan fakta yang tersedia? Betulkah fakta-fakta itu digunakan dengan jujur dari sesuatu prasangka yang tidak menyebelah ? Cukup banyakkan fakta-fakta itu untuk dapat dianggap bahwa kejadian itu dianggap umum ? Cukup benarkah induksi dan deduksi yang digunakan serta logika yang sehat benar-benar diperlukan ? 

b)     penelitian fact finding, yaitu merupakan penelitian dari suatu hasil penemuan fakta penelitian, tentang sesuatu hal yang benar-benar berdasar dari fakta-fakta yang ada untuk membuat laporan yang dapat dipercaya. Sebut saja sebagai contoh tentang pemberontakan ataupun gerakan disintegrasi bangsa dari sekelompok suku bangsa tertentu terhadap pemerintah yang resmi. Dalam hal ini peneliti harus meneliti dari faktor-faktor penyebab pemberontakan/gerakan tersebut. Laporan-laporan yang telah ada tentang karakteristik, dan ketidakpuasan suku tersebut dari dulu hingga sekarang. Sikap-sikap pemerintah yang dianggap kurang kondusif memupuk persatuan dan kesatuan bangsa. Fakta-fakta tersebut kemudian dikumpulkan dari dokumen-dokumen yang ada, hasil observasi-observasi, dari wawancara-wawancara, maupun isu-isu yang berkembang dan sebagainya. 
c)      penelitian interpretasi kritis: Penelitian ini juga lazim dilakukan dalam sosiologi. Dalam hal ini peneliti pada umumnya tidak tersedia cukup mempergunakan fakta-fakta, karena yang dikumpulkan itu hanyalah merupakan analisis-analisis maupun uraianuraian tentang sesuatu fakta yang sedikit tersedia. Dengan demikian diperlukan analitis kritis seorang peneliti untuk meyakinkan pembaca ataupun peneliti lainnya dalam memahami hasil-hasil penelitiannya. Bisaanya baik penelitian fact finding maupun interpretasi kritis hanya sekedar pembuatan laporan penelitian dan tidak memberikan kesimpulan-kesimpulan yang lengkap atas fakta-faktanya. 

C.    KEGUNAAN SOSIOLOGI
Sebagai ilmu pengetahuan sosial yang objeknya masyarakat, sosiologi tentu memiliki kegunaan dalam beberapa bidang yang antara lain :
1.      Perencanaan Sosial
Perencanaan sosial merupakan kegiatan untuk memenuhi kebutuhan generasi sekarang tanpa membahayakan kelangsungan kehidupan generasi mendatang. Kegiatannya berupa pengarahan-pengarahan dan bimbingan sosial mengenai ciri-ciri hidup masyarakat yang lebih baik.Perencanaan sosial lebih bersifat preventif untuk mengatasi berbagai hambatan.Kegunaan sosiologi dalam perencanaan sosial :
a)      Sosiologi memahami perkembangan kebudayaan masyarakat tradisional maupun modern.
b)      Sosiologi memiliki disiplin ilmiah yang didasarkan atas objektivitas.
c)      Secara sosiologis suatu perencanaan sosial dapat dimanfaatkan untuk mengetahui tingkat ketertinggalan dan tingkat kemajuan masyarakat dari sudut kebudayaannya seperti perkembangan IPTEK.
d)     Sosiologi memahami hubungan manusia dengan lingkungan alam, hubungan antar golongan pengaruh inovasi (penemuan baru) terhadap masyarakat.
e)      Perencanaan sosial merupakan alat untuk mengetahui perkembangan masyarakat
2.      Penelitian
Dalam bidang penelitian masyarakat, sosiologi memiliki kelebihan dibanding ilmu-ilmu lainnya karena:
1)      Memahami simbol kata-kata, kode dan berbagai istilah yang digunakan masyarakat sebagai objek penelitian empiris.
2)      Pemahaman terhadap pola-pola tingkah laku manusia dalam masyarakat.
3)      Kemampuan mempertimbangkan berbagai fenomena sosial yang timbul dalam kehidupan masyarakat, lepas dari prasangka-prasangka subjektif.
4)      Kemampuan melihat kecenderungan-kecendrungan ke arah perubahan pola tingkah laku anggota masyarakat atas sebab-sebab tertentu.
5)      Kehati-hatian dalam menjaga pemikiran yang rasional sehingga tidak terjebak dalam pola pikir yang tidak jelas.
3.      Pembangunan
Proses pembangunan terutama ditujukan untuk meningkatkan taraf hidup rakyat baik secara material maupun secara spiritual yang meliputi hal-hal sebagai berikut :
a.       Pembangunan harus bersifat rasionalistis
b.      Adanya perencanaan dan proses pembangunan
c.       Peningkatan produktivitas
d.      Peningkatan standar kehidupan
e.       Kesempatan yang sama untuk berpartisipasi
Tahap-tahap dalam pembangunan :
a)      Perencanaan
Perlu diadakan identifikasi terhadap berbagai macam kebutuhan masyarakat.

b)      Penerapan
Perlu diadakan penyorotan terhadap kekuatan dalam masyarakat.
c)      Evaluasi
Keberhasilan pembangunan hanya dapat dinilai melalui evaluasi dan dapat diidentifikasi tentang adanya kekurangan, kemacetan, kemunduran dan kemerosotan
4.      Pemecahan Masalah Sosial
Masalah sosial adalah suatu ketidak sesuaian antara unsur-unsur kebudayaan dan masyarakat yang membahayakan kehidupan masyarakat.
Masalah sosial bersumber dari faktor-faktor berikut :
a.       Faktor ekonomis               : Kemiskinan, pengangguran, bencana alam.
b.      Faktor biologis                  : Penyakit menular, wabah.
c.        Faktor psikologis              : Bunuh diri, sakit jiwa.
d.      Faktor kebudayaan           : Perceraian, kenakalan remaja, konflik etnis.
Perubahan yang terjadi secara terus menerus pad masyarakat yang saling berkembang seperti Indonesia menimbulkan disorganisasi dalam masyarakat yang menyebabkan munculnya masalah sosial, seperti :
a.       Desintegrasi keluarga
b.      Kenakalan remaja
c.       Kemiskinan
d.      Kejahatan
e.       Peperangan
f.       Pelanggaran terhadap norma
g.      Masalah kependudukan
Metode-metode sosiologi yang dipakai dalam memecahkan masalah sosial adalah preventif dan metode represif.Metode preventif lebih sulit dilakukan karena harus benar-benar didasarkan pada penelitian yang sangat mendalam tentang sebab-sebab terjadinya masalah sosial, sedangkan metode represif dilakukan setelah suatu gejala dapat dipastikan sebagai masalah sosial barulah diambil tindakan-tindakan untuk mengatasi masalah sosial itu. Dalam mengatasi masalah sosial diperlukan suatu kerja sama lintas ilmu pengetahuan masyarakat bukan dari aspek sosiologis saja.


D.    Sosiologi Sebagai Ilmu Obvious (Nyata) 
Banyak orang sering memperdebatkan tentang sifat ilmu sosiologi itu.Tidak sedikit yang mengemukakan bahwa sosiologi sebagaimana layaknya ilmu sosial, tidak jauh berbeda dengan ilmu-ilmu sosial lainnya.Tetapi di balik itu semua nampak juga yang menekankan bahwa jika sosiologi ingin tetap merupakan sebuah ilmu pengetahuan, maka harus merupakan suatu ilmu pengetahuan yang jelas nyata (Poepenoe, 1983:5). 
Para ahli sosiologi, sering berkata, kita banyak menghabiskan uang untuk "menemukan" apa yang sebetulnya hampir semua orang telah mengetahuinya. Keberadaan masalah ini disebabkan oleh karena dalam sosiologi dihadapkan dengan dunia masyarakat yang sebetulnya tidak begitu aneh, di mana orang-orang yang secara umum sudah akrab ataupun mengenalnya konsep-konsep yang diperkenalkan dalam bidang sosiologi. Sebaliknya, sebagai pembanding, dalam pokok  kajian pada kelompok ilmu-ilmu kealaman adalah sering berada di luar dunia dari pengalaman kita sehari-hari. Maka untuk menjawab atas permasalahan dalam ilmu pengetahuan alam, hal yang paling sering bahwa temuan kajian itu memberikan dalam ungkapan bahasa dan simbol-simbol di mana kebanyakan orang hampir tidak memahaminya atau benar-benar dibawa dalam pengenalan konsep yang benar-benera baru. 
Sekali lagi, penyebabnya hanyalah bidang kajian dalam sosiologi adalah hal-hal yang terbiasa kita kenal. Oleh karena itu implikasinya dari karena ‘sudah biasa’ dan familiar itu maka untuk memperoleh sesuatu yang ‘baru’ itu harus ditelitinya secara ekstrim dengan sangat seksama dan hati-hati. Adanya pernyataan-pernyataan yang menekankan pentingnya akal sehat (common-sense), dan pertimbangan atau pemikiran (reasoning) memberikan dukungannya terhadap sosiologi, memang tidak boleh diabaikan tetapi juga sering menyesatkan. Dalam hal ini, ambil, sebagai contoh permasalahan dalam ‘bunuh diri’, yang telah menjadi penyebab kedua terbanyak tentang faktor penyebab kematian (setelah kecelakaan) di antara anak-anak muda di Amerika Serikat. 
Secara akal sehat dan berdasarkan pertmbangan-pertimbangan, anda akan katakan bahwa meningkatnya bunuh diri di Amerika Serikat, berkaitan dengan: 
1.      Penyebab di mana hal itu merupakan semacam suatu waktu depresi tahunan, orang-orang lebih banyak melakukan bunuh diri pada waktu musim dingin dibanding musim panas. 
2.      Sebab mereka adalah yang orang-orang yang memiliki tingkat ketergantungan tinggi, obat-obatan, dan di sini kaum wanita lebih tinggi untuk melakukan bunuh diri daripada laki-laki.
3.      Lebih banyak orang-orang yang muda yang melakukan bunuh diri dibanding orang-orang tua. Di mana yang muda, penyebab stress dan ketidak-pastian hidup adalah jauh lebih besar. 
4.      Dalam kaitannya dengan ketidaksamaan dan diskriminasi, kulit hitam mempunyai suatu tingkat bunuh diri lebih tinggi dibanding dengan kulit putih, tiap tahunnya. 
5.      Kondisi kehidupan yang miskin, tingkat angka bunuh diri di negara berkembang adalah jauh lebih tinggi dibanding dengan masyarakat industri maju. 
Ternyata riset sosiologi telah menunjukkan masing-masing pernyataan tersebut merupakan jawaban-jawaban yang semu ataupun palsu (Gibbs, 1968). Angka bunuh diri adalah lebih tinggi sepanjang bulan musim panas dibanding musim dingin.. Pada sebagian lagi, hal ini adalah disebabkan orang-orang merasa depresi ketika cuaca yang panas dan sesuatu yang ia harapkan untuk menikmati waktu bersenag-senang ia yang ia sangat nantikan ternyata ibarat mendaki yang terjal di bebatuan..Karena sejumlah pertimbangan dan pikiran akal sehat kita, ternyata angka bunuh diri kaum laki-laki jauh lebih tinggi dibanding perempuan. (walaupun kaum wanita mencoba bunuh diri lebih sering dibanding yang dilakukan laki-laki). Tingkat bunuh diri yang dilakukan kaum tua juga lebih tinggi daripada yang muda, di mana sebagian disebabkan oleh kesehatan yang sakit-sakitan.Dan tingkat bunuh diri di antara kulit hitam dan di negara berkembang secara relatif adalah rendah.Mungkin nampak aneh kedegarannya, tetapi bukti menunjukkan bahwa tingkat bunuh diri adalah jauh lebih tinggi dari mereka, di mana umumnya adalah negara-negara yang makmur dan rata-rata berpendidikan cukup baik. 
Bukti-bukti adanya peningkatan yang tajam dalam bunuh diri bahwa terjadi ketika masyarakat menjadi lebih maju, fakta ini dikumpulkan pertama kali secara sistematis oleh salah seorang pendiri sosiologi, Emile Durkheim (1858-1917). “Suicide” judul bukunya itu (1897) adalah salah seorang dari pelopor studi ilmiah dalam sosiologi. Studi bunuh diri sejak itu telah menjadi suatu bidang kajian riset yang penting dan menarik, sering mengejutkan dan menemukan hal-hal yang aneh seperti tulisan Durheim..Apa yang dapat kita pelajari dari pernyataan tentang bunuh diri tersebut?. Pernyataan akal-sehat dan pertimbangan ataupun pemikiran yang beralasan untuk mendukungnya, ternyata dapat menyesatkan  dan sering hal itu terjadi. Di situlah sosiologi sebagai science of the obvious hanya bisa dilakukan melalui kajian-kajian yang penuh kehati-hatian dan obyektif, bahwa kita dapat mengetahui dengan penuh percaya diri dalam menjawab banyak pertanyaan tentang tingkah laku manusia dan masyarakat kita.
E.     SEJARAH PERKEMBANGAN SOSIOLOGI
a.       Pada Zaman Keemasan Yunani
Tokoh ilmu sosiologi dalam masa ini adalah Plato (429 – 347 SM). Pada masa itu Palto sangat terkenal karena berhasil merumuskan teori organis mengenai masyarakat yang mencakup kehidupan sosial dan masyarakat, menganggap bahwa instansi dalam maysrakat sangat bergantung satu dengan yang lain secara fungsional sehingga mereka harus bekerjasama.
Kemudian Aristoteles (384 – 322 SM) berpendapat bahwa masyarakat adalah organism hidup yang berdasar pada moral sehingga kerukunan, toleransi harus dimasukkan kedalam nilai – nilai hidup bermasyarakat.
b.      Pada Zaman Renaissance (1200 – 1600)
Pada masa ini muncul tokoh yaitu Machiavelli yang berpendapat bahwa politik dan moral dipisahkan sehingga terjadi pendekatan mekanis terhadap masyarakat.Kemudian berkembangalah teori politik sosial dimana pemerintah menjadi pusat mekanismenya.
c.       Pada Abad Pencerahan (abad 16 dan 17)
Tokoh pada masa ini adalah Thomas Hobbes (1588 – 1679) dengan bukunya “The Leviathan”.Ajaran Thomas banyak diilhami oleh hukum alam, fisika dan matematika.Pada masa ini muncuk kontrak sosial dimana muncul karena adanya pandangan yang bersifat hukum sebagai akibat mulai ditinggalkannya pengaruh keagamaan oleh pengaruh kemasyarakatan atau keduniawian.
d.      Pada Abad ke 18
John Locke (1632 – 1704) yang dianggap sebagai Bapak Hak Asasi Manusia (HAM). Dia berpendapat bahwa setiap manusia mempunyai hak dasar sangat pribadi yang tidak dapat dirampas oleh siapapun termasuk oleh negara (seperti hak hidup, hak berpikir, hak berbicara, berserikat dan lain – lain).
Selain itu terdapat tokoh lain yaitu, J.J Rousseu (1712 – 1778) yang masih berpegang pada kontrak sosial Hobbes, bahwa kontrak antara pemerintah dan rakyat menyebabkan munculnya kolektivitas yang mempunyai keinginan sendiri – sendiri dan berkembang menjadi keinginan umum. Keinginan umum inilah yang menjadi dasar kontrak sosial negara dengan rakyatnya.
e.       Pada Abad ke 19
Pada abad ini ilmu sosiologi mulai diperkenalkan oleh Aguste Comte (1798 – 1853) yang didsarkan pada perkembangan interaksi antara sosial dan industrialis. Pada masa ini sosilogi mulai dapat mandiri disebabkan sosiologi bisa munjukkan obyeknya yaitu interaksi manusia, namun dalam pengembangannya masih menggunakan ilmu lain contoh ilmu ekonomi.
f.       Pada Abad 20
Masa ini sosiologi bisa dikatakan mandiri karena :
1.      Mempunyai obyek khusus yaitu interaksi antar manusia
2.      Mengembangkan teori sosiologi
3.      Mampu mengembangkan metode khusus untuk pengembangan sosiologi
4.      Sosiologi sangat relevan dengan perkembangan karena banyak pembanguna yang gagal dikarenakan tidak memperhatikan masukan dari sosilog.
g.      Timbulnya Sosiologi Modern
Seorang yang berpengaruh dalam proses perubahan ini adalah sosiolog dari perancis bernama Emile Durkheim (1858 – 1917) dengan buku Rule Of Sociological Method. Beliau sangat pintar dalam mengkaji ilmu – ilmu secara empiris dalam membentuk teori sosiologis, oleh karenanya Beliau disebut sebagai Bapak Pelopor Sosiolog Modern.
Kemudian muncullah tokoh W.I Thomas (1863-1947), yang berperan dalam perkembangan ilmu sosilogi di Amerika dengan laporannya yang terkenal yang terdiri dari lima jilid, yaitu mengenai keberhasilan petani Polandia yang berimigrasi di Amerika.
Ilmuwan Herbert Spencer 1176, Beliau menggabungkan teori evolosi sosial dengan mengaplikasikan teori Charles Darwin, bahwa terjadinya evolusi secara gradasi dari suatu masyarakat primitive kearah masyarakat industry.
Seorang Sosiolog Amerika Listerward (1883) dengan karyanya Dynamic Sosiology menjelaskan tentang pergerakan aktivitas sosial yang hubungannya dilakukan oleh para sosiolog.
Max Webber (1884-1920) menjelaskan bahwa metode dalam ilmu pengetahuan alam tidak dalam diterapkan dalam pengumpulan data ilmu sosial.Webber menjelaskan studi ilmu sosial berdasarkan gejala dalam dalam dunia kehidupan bersama, maka seharusnya dipahami dengan subjektifitas yang derajatnya diukur oleh peneliti sosiolog yang dilaksanakan oleh manusia juga.



h.      Perkembangan di Indonesia
Di Indonesia dimulai sejak sebelum perang dunia II. Tokoh yang memperkenalkan adalah para pujangga antara lain : Sri Paduka Mangkunegara IV dari Surakarta, mengajarkan Wulang Reh, yaitu tata hubungan antar masyarakat jawa dari berbagai macam golongan di Jawa. Kemdian Ki Hajar Dewantara, dengan konsep kepemimpinan dan kekeluargaan yang diterapkan di Organisasi Taman Siswa.
Setelah Perang dunia II, muncul berbagai akademisi antara lain Akademi Politik di Fakultas Sosial Politik Gajah Mada. Kemudian terbitnya buku karangan M.R Djody Gondokusuman dengan judul Sosiologi Indonesia dll.
                                                 BAB III
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
a.      Pengertian ,karakteristik, dan ruang lingkup sosiologi
Sosiologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari jaringan hubungan antara manusia dalam bermasyarakat.
Karakteristik sosiologi menurut Soekanto ( 1986: 17 ) mencakup hal hal berikut:
v  Sosiologi merupakan bagian dari ilmu sosial, bukan merupakan bagian ilmu pengetahuan alam maupun ilmu kerohanian
v  Sosiologi bukan merupakan disiplin yang normatif, melainkan suatu disipilin yang bersipat kategoris. Artinya, sosiologi membatasi dri pada apa yang terjadi pada saat ini, dan bukan mengenai apa yang semestinya terjadi atau seharusnya terjadi.
Secara tematis, ruang lingkup sosiologi dapat dibedakan menjadi beberapa subdisiplin sosiologi, sperti sosiologi pedesaan (rural sociology), sosiologi industri (industrial sociology), sosiologi perkotaan (urban sociology), sosiologi medis (medical sociology), sosiologi wanita (woman sociology), sosiologi militer (military sociology), sosiologi keluarga (family socciology), sosiologi pendidikan (educational sociology), dan sosiologi seni (sociology of art).
b.                  Pendekatan ,metode, teknik, ilmu bantu, jenis-jenis penelitian
Walaupun sosiologi diawal kelahirannya pada abad ke-19 sangat dipengaruhi oleh pemikiran-pemikiran yang bersifat positivistik khususnya bagi pendirinya Auguste Comte, namun dalam pendekatannya sosiologi tidaklah absolut bersifat kuantitatif, melainkan juga dapat menggunakan pendekatan kualitatif (Soekanto, 1986: 36).
Para ahli sosiologi dalam penelitiannya banyak menggunakan beberapa metode penelitian, diantaranya: 
v  Metode Deskriptif
v  metode eksplanatori
v  metode historis-komparatif: 
v  metode fungsionalisme
v  metode studi kasus
v  metode survey
Beberapa teknik pengumpulan data yang banyak digunakan dalam kajian sosiologi, di antaranya adalah sosiometri, wawancara, observasi, dan observasi partisipan. Untuk mempermudah pemahaman beberapa teknik yang sering digunakan dalam kajian sosiologi tersebut,
Jenis Penelitian Sosiologi Dalam peneltian sosiologi (Shadily, 1980: 50-52), kita setidaknya mengenal tiga macam penelitian sosiologi, yakni: penelitian lengkap, penelitian fact finding, dan penelitian interpretasi kritis. 
kegunaan sosiologi untuk mengetahui, mengidentifikasi, dan mengatasi problema-problema sosial (Soekanto, 1986: 339-340). Adapun beberapa problema sosial tersebut, dilihat fokus kajiannya secara makro dapat dibedakan berdasarkan bidang-bidang keilmuannya.Sebagai contoh problemaproblema yang berasal dari faktor ekonomi seperti; kemiskinan dan pengangguran.Problema sosial yang disebabkan oleh faktor kesehatan, misalnya; terjangkitnya penyakit menular, rendahnya angka harapan hidup, serta tingginya angka kematian.Problema sosial yang disebabkan oleh faktor psikologis misalnya meningkatnya fenomena neurosis (sakit syaraf), tingginya penderita stress, dan sebagainya. Lain lagi dengan problema sosial yang disebabkan oleh faktor politik, misalnya; tersumbatnya aspirasi politik massa, meningkatnya sistem pemerintahan yang otoriter, ataupun tidak berfungsinya lembaga-lembaga tinggi negara (legislatif, eksekutif, maupun yudikatif). 
Sosiologi sebagai ilmu yang nyata Banyak orang sering memperdebatkan tentang sifat ilmu sosiologi itu.Tidak sedikit yang mengemukakan bahwa sosiologi sebagaimana layaknya ilmu sosial, tidak jauh berbeda dengan ilmu-ilmu sosial lainnya.Tetapi di balik itu semua nampak juga yang menekankan bahwa jika sosiologi ingin tetap merupakan sebuah ilmu pengetahuan, maka harus merupakan suatu ilmu pengetahuan yang jelas nyata (Poepenoe, 1983:5). 
Perkembangan Awal Para pemikir Yunani Kuno, terutama Sokrates, Plato, dan Aristoteles, beranggapan bahwa masyarakat terbentuk begitu saja.Masyarakat mengalami perkembangan dan kemunduran tanpa ada yang bisa mencegah.Kemakmuran dan krisis dalam masyarakat merupakan masalah yang tidak terelakkan.
Abad Pencerahan: Rintisan Kelahiran Sosiologi Sosiologi modern berakar pada karya para pemikir Abad Pencerahan; abad XVII Masehi. Abad itu ditandai oleh beragam penemuan di bidang ilmu pengetahuan.
Abad Revolusi: Pemicu Lahirnya Sosiologi Perubahan pada Abad Pencerahan membawa perubahan revolusioner sepanjang abad XVIII Masehi. Perubahan itu dikatakan revolusioner karena struktur (tatanan) masyarakat lama dengan cepat berganti dengan struktur yang baru. Revolusi sosial yang paling jelas tampak dalam Revolusi Amerika, Revolusi Industri, dan Revolusi Prancis, Ketiga revolusi itu berpengaruh ke seluruh dunia




B.     SARAN
Sebagai manusia yang tak luput dari kesalahan, pemakalah menyadari sepenuhnya bahwa masih banyak terdapat kekurangan. Baik dalam penulisan,maupun argumen-argumen yang tentunya di buat oleh manusia itu sendiri. Maka dari itu pemakalah mengharapkan kritik dan saran dari teman-teman dan terutama kepada dosen pembimbing, demi kelancaran pembuatan makalah berikutnya. Atas saran dan kritikanya untuk kedepanya pemakalah ucapkan trimakasih.


DAFTAR PUSTAKA
Idianto Muin. 2013. Sosiologi untuk SMA / MA Kelas X. Kelompok Peminatan Ilmu-Ilmu Sosial. Jakarta: Erlangga
Dirjosisworo, S. 1982. Pokok-pokok Sosiologi Sebagai Penunjang Studi hukum. Bandung: Ofste Alumni.
Ismail, Rita. 2007. Sosiologi Keperawatan. Yogyakarta: EGC.
.Soehartono, I. 1995. Metode Penelitian Sosial. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Supardan, D. 2009. Pengantar Ilmu Sosial. Jakarta: Bumi Aksara.
Yunus, Rosman. 2006. Teori Darwin dalam Pandangan Sains dan Islam. Yogyakarta:  Gema Insani
Zeitlin, Irving. 1995. Memahami Kembali Sosiologi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.