A. TEORI PERMINTAAN UANG
Teori permintaan uang, tercermin
dalam teori kuantitas uang. Pada awal mulanya teori ini dimaksudkan untuk
menjelaskan mengapa seseorang atau masyarakat menyimpan uang kas, tetapi lebih
pada peranan dari uang itu sendiri. Menurut Fisher bahwa jumlah proporsional
dengan harga, dengan asumsi kecepatan uang dan transaksi dianggap tetap
(Sukirno, 2003:221).
Keynes dalam
teorinya tentang permintaan akan uang tunai, membedakan antara motif transaksi,
berjaga-jaga serta spekulasi. Jadi dia juga mengakui adanya motif transaksi.
Hanya saja yang lebih penting dalam arti pengaruhnya terhadap kegiatan ekonomi
adalah motif spekulasi (Goldfeld, 1990:307)
1. Permintaan uang
untuk tujuan transaksi dan berjaga-jaga
Keynes mengatakan, bahwa permintaan
uang kas untuk tujuan transaksi ini tergantung pada pendapatan. Makin tinggi
akan uang kas makin tinggi jumlah transaksi yang dilakukan. Seseorang atau
masyarakat yang tingkat pendapatannya tinggi, biasanya melakukan transaksi
lebih banyak dibanding seseorang atau masyarakat yang pendapatannya lebih
rendah.
Menurut Keynes, orang meminta uang
untuk transaksi harian. Permintaan ini dipengaruhi oleh besar kecilnya
pendapatan. Semakin tinggi pendapatan maka semakin besar permintaan
uang untuk tujuan transaksi. Dari sini jelas bahwa Keynes mengikuti jejak kaum
Klasik bahwa permintaan uang untuk transaksi tergantung dari pendapatan.
Untuk memenuhi transaksi yang tak
terduga, seperti sakit atau kebutuhan yang tak terduga lainnya. Permintaan ini
juga dipengaruhi oleh pendapatan, semakin besar pendapatan maka semakin besar
permintaan uang untuk berjaga-jaga, atau sebaliknya. Namun Keynes berbeda
dengan kaum klasik dalam hal penekanan pada motif spekulasi dan peranan tingkat
bunga dalam menentukan permintaan uang untuk spekulasi.
Rumah tangga dan perusahaan bisnis menyimpan uang untuk
tujuan transaksi karena mereka berpikir akan atau mungkin, ingin melakukan
pengeluaran sebelum mereka memperoleh arus masuk penerimaan uang yang cukup.
Biasanya mereka tidak mempunyai jaminan seperti itu. Oleh karena itu, mereka
lebih memilih untuk menyimpan sedikit uang untuk menutupi kelebihan pengeluaran
mereka atas penerimaan mereka selama satu periode.
Keynes
menyatakan bahwa permintaan uang untuk tujuan transaksi merupakan fungsi
pendapatan. Keuntungan ini dilukiskan dalam gambar diatas dimana L1,
menunjukkan jumlah saldo uang riel yang diminta untuk tujuan transaksi.
Terlihat semakin tinggi pendapatan, maka semakin banyak uang yang dipegang
untuk keperluan transaksi (Mt). Hubungan antara permintan uang untuk transaksi
dengan pendapatan rill (Y/P) tidak selalu linier (garis lurus).
Dengan demikian
jelas bahwa Keynes mengikuti jejak kaum klasik bahwa permintaan uang untuk
tujuan transaksi tergantung pada pendapatan. (Goldfeld, 1990:308)
2.
Permintaan uang untuk tujuan spekulasi
Permintaan uang
untuk tujuan spekulasi ini, menurut Keynes ditentukan oleh tingkat bunga. Makin
tinggi tingkat bunga makin rendah keinginan masyarakat akan uang kas untuk
tujuan atau motif spekulasi.
Alasannya:
1)
Apabila tingkat bunga naik, berarti ongkos memegang uang
kas semakin kecil.
2)
Bahwa masyarakat menganggap akan adanya tingkat bunga
normal.
Ketergantungan permintaan uang untuk spekulasi dinyatakan
oleh L2, atas suku bunga dalam gambar diatas. Kurva L2L2, condong menurun,
mencerminkan hubungan terbalik antara permintaan uang untuk spekulasi dan suku
bunga (Goldfeld, 1990:309).
Keynes mengakui bahwa masyarakat bisa memilih untuk
menyimpan saldo uang melebihi kebutuhan untuk tujuan transaksi karena
keinginannya untuk menyimpan aktiva yang benar-benar bebas dari resiko
(depresiasi) dilihat dari segi uang. Saldo yang memenuhi fungsi penyimpan nilai
(Store of Value) merupakan permintaan uang untuk spekulasi.
Permintaan uang untuk spekulasi oleh Keynes dianggap
ditentukan terutama oleh suku bunga. Bahwa suku bunga yang lebih rendah
menyebabkan saldo spekulasi lebih kecil dan suku bunga yang lebih rendah akan
menghasilkan permintaan yang lebih besar akan saldo spekulasi.
B. Kuantitas
dan prereferensi likuiditas
a.
Kuantitas uang dikendalikan
Jumlah
uang yang tersedia disebut permintaan uang (suplay money). Dalam perekonomian
yang menggunakan uang komoditas permintaan uang adalah jumlah uang dari
komoditasitu. Dalam perekonomian yang menggunakan uang atas unjuk ,seperti sebagian
perekononomian yang menggunakan uang atas unjuk,sperti sebagian perekonomian
dewasa ini, pemerintah mengendalikan suplai uang: peraturan resmi member
pemerintah hak untuk memonopolipencetak uang. Tingkat pengenaan pajak (taxation) dan tingkat pembelian
pemerinta merupakan instrument kebijakan pemerintah ,begitu pula suplay uang, control
atas suplay uangg disebeut kebijakan moneter(monetary suplay).
Di amerika
serikat dan di negara lain,kebijakan moneter sbagian didelegasikan kepada lembaga
independen disebut bank sentral (central bank). Bank sentral amerika
serikat adalah federal reserve sering disebut the fed. Jika anda perhatikan
uang kertas dolar ,uang itu disebut federal reserve note. Keputusan
atas kebijakan moneter dibuta oleh komite pasar bebas federal. Komite ini di
bentuk oleh federal reserve board, yang ditunjukkaoleh presiden dan konfirmasi
kongris, bersama – sam dengan presiden dari fedral reserve ban’s komite. Komite
pasar bebas federal bertemu kira –kira setiap enam pecan untuk mendiskusikan
dan menetapkan kebijakan moneter.
Cara utama
fed mengendalikan uang suplai uang adalah melalui operasi pasar terbuka ( open
market operation) pembelian dan penjualan obligasi pemerintah. Ketika ingin
meningkatkan suplai uang ,fed menggunakan sebagian dari dolar yang dimiliki
untuk membeli obligasi pemerinta dari dolar yang dimiliki dan masuk ketangan
public, pembelianmeningkatkan kuantitas uang dalm obligasi pemerintah dari
portofolionya sendiri. Penjualan obligasi pasar terbuka ini mengambil sebagian
dolar dari tangan public dan dengan
demikian mengurangi kuantitas uang dalam sirkulasi.
Pada
pertemuan berikutnya akan di bahas lebih rinci lagi karena kita cukup untuk
meng asumsikan bahwa fed secara langsung mengendalikan suplay uang.
b.
Kuantitas uang di ukur
Suplai uang mempengaruhi per ekonomian karena uang adalah persediaan aset yang di
gunakan untuk transaksi, kuantitas uang
adalah aset trsebut. Dalam perekonomian sederhana ,jumlah ini mudah di
ukur. Di kam pow,kuantitas uang adalh jumlah rokok di kamp. Tetapi bagaimanak
kita bisa mengukur kuantitas uang dalam perekonomian yang lebih
kompleks?jawabannya tidak jelas,karena bukan aset tunggal yang digunakan utntuk
seluruh transaksi. Orang bisa mengguankan berbagai aset untuk melakukan
transaksi,seprti uang tuanai atau cek,meskipun sebagian aset lebih nyaman dari
pada yang lainnya.kemenduaan ini mengarah kesejumlah ukuran dari kuantitas
uang.
Aset yang paling jelas utnuk di masukkan dalam kuantitas
uang dalah mata uang (currency)atau disebut
juga uang kartal, jumlah uang kertas dan uang logam yang beredar. Sebagian
besar transaksi harian menggunakan mata uang sebagai mediapertukaran
Jenis aset yang kedua digunakan dalam transaksi adalh uang
giral (demand deposits),dana yang
dipekang orang dalam rekening ceknya (checking
accounts). Jika sebagian besar penjual menerima cek pribadi, aset dalam
rekening cek hamper senyaman mata uang. Dalam kedua kasus, ast tersebut adalh
siap untuk memfasilitasi transaksi. Karena itu, deposito permintaan di
tambahkan kemata uang ketika transaksi uang.
Sekali kita menerima logika memasukkan deposito permintaan
dalam persediaan uang terukur, banyak aset lain yang juga bisa dimasukkan. Dana
dalam rekening tabungan , misalnya ,bisa dengan mudah ditransfer menjadi
rekening cek; aset ini hamper senyaman untuk transaksi. Pasr uang reksadana
mempubolehkan investor menurlis cek terhadap rekening mereka, meskipun batasan
juga diberlakukan dengan melihat besarnya cek atu jumlah cek yang ditulis.
Karena bisa dengan mudah diguankan utnuk transakasi, aset ini dimasukkan dalamm
kuantitas uang.
Karena su;it menilai secara pasti aset mana yang seharusnya
memasukkan dalam persediaan uang,berbagai ukuran. Tabel berikut ini
menunjukkanlima ukuran persediaan uang yang dihitung fed untuk perekonomian
AS,bersamaan dengan daftar
|
Ukuran uang
|
||
|
Symbol
|
Cakupan aset
|
Jumlah pada april 1998
(Miliar dolar)
|
|
C1
|
Mata uang
|
434
|
|
M1
|
Mata uang yang ditambah deposito penerimaan,traveler’s check,dan deposito yang
dapat diluangkan dengan cek lainnya
|
1.061
|
|
M2
|
M1ditambah neraca reksadana pasar uang ritel,deposito
tabungan (termasuk rekening deposito pasar uang), dan deposito berjangka
kecil
|
4.165
|
|
M3
|
M2 ditambah deposito berjangka besar, kesepakatan
pembelian uang,Eurodollar,dan neraca reksadana pasar uang institusi .
|
5.574
|
|
L
|
M3 plus aset likuid lain seperti obligasi tabungan dan
sekuritas treasury jangka pendek
|
6.826
|
Aset mana yang dimasukkan dalam setiap ukuran. Dari yang
terkecil sampai yang terbesar ,aset itu disebut C,M1,M2,M3, Dan L. ukuran yang paling umum digunakan untuk
mempelajari dampak uang terhadap perekonomian adalah M1 dan M2. Namun, tidak ada consensus tentang ukuran persediaan
uang mana yang terbaik. Ketidak setujuan tentang kebijakan moneter kadang –
kadang muncul karena ukuran uang yang berbeda bergerak dalam arah yang berbeda.
C. Prereferensi Likuiditas
Keynes mengajukan teori preferensi
likuiditas untuk menjelaskan faktor-faktor penentu tingkat bunga. -Menurut
teori ini, tingkat bunga disesuaikan untuk menyeimbangkan penawaran dan
permintaan uang. -Kenaikan tingkat harga meningkatkan permintaan uang dan
meningkatkan tingkat bunga. -Tingkat bunga lebih tinggi mengurangi investasi
dan, dengan demikian, jumlah barang dan jasa yang diminta.The miring ke bawah
kurva permintaan agregat menunjukkan hubungan negatif antara tingkat harga dan
kuantitas yang diminta. Pembuat kebijakan dapat mempengaruhi permintaan agregat
dengan kebijakan moneter. Peningkatan jumlah uang beredar pada akhirnya akan
menyebabkan pergeseran ke kanan kurva permintaan-agregat. Penurunan jumlah uang
beredar pada akhirnya akan mengarah pada pergeseran ke kiri kurva
permintaan-agregat. Ketika pemerintah mengubah pengeluaran atau pajak, yang
dihasilkan pergeseran permintaan agregat bisa lebih besar atau lebih kecil dari
perubahan fiskal. Multiplier effect cenderung memperkuat efek kebijakan fiskal
terhadap permintaan agregat. Efek crowding-out cenderung mengurangi dampak
kebijakan fiskal terhadap permintaan agregat.
D. Penetuan tingkat bunga
a. Dua tingkat bunga: riil dan nominal
Para ekonom menyebutkan tingkat bunga
yang dibayarkan bank sebagai tingkat
bunga nominal (nominal interest rate) dan
kenaiakn dalam daya beli anda dengan tingkatbuang riil ( real interest rate ).
Jika I menyatakan tingkat bunga,r tingkat
bunga riil dan tingkat inflasi, maka hubungan di antara varuabel ini ditulis
sebagai
Tingkat bunga riil adalah perbedaan di
antara tingkat bunga nominal dan tingkat inflansi.
b.
Efek fisher
Persamaan
tingkat bunga riil diatas, coba kita lihat bahwa tingkat bunga nominal adalah
jumlah tingkat bunga riil dan tingkat inflasi
Persamaan diatas disebut persamaan fisher (fisher equation),di ambil dari nama belakang ekonom irving fisher (1867-1947).
Persamaan itu menujukkan tingkat bunga bisa berubah karena dua alasan ;karena
tangkat bunga riil berubah karena inflasi berubah
Sekali memisahkan tingkat bunga nominal mejadi dua bagian, kita
bisa gunakan persamaan ini untuk mengembangkan teori yang menjelaskan tingkat
bunga nominal .tingkat bunga riil menyesuaikan untuk menyeimbangkan tabungan
daan investasi. Teori kuantiats uang menunjukan bahwa tingkat pertumbuhan uang
menunjukkan bahwa tingkat pertumbuhan uang menentukan tingkat inflasi. Persamaan tingkat bunga riil dengan tingkat inflasi
untuk menentukan tingkar bunga nominal.
Teori kuantitas dan persamaan fisher sama-sama menyatakan
bagaimana pertumbuhan uang mempengaruhi tingkat nominal. Menurut teori
kuantitas kenaikan dalam tingkat
pertumbuhan uang sebesar 1 persen menyebabkan kenaikan 1persen dalam tingkat
inflasi. Menurut persamaan fisher,kenaikan 1 persen dalam tingkat inflasi
sebaliknya menyebabkan kenaikan 1persen dalam tingkat bunga nominal. Hubungan
satu untuk satu diantara tingkat inflasi dan tingkat bunga nominal disebut efek
fisher (fisher effect).
E. Inflasi dan dampak nya terhadap per
ekonomian
inflasi adalah
suatu keadaan perekonomian dimana harga-harga secara umum mengalami kenaikan
dalam waktu yang panjang. Kenaikan harga yang bersifat sementara seperti
kenaikan harga pada masa lebaran tidak dianggap sebagai inflasi, karena disaat
setelah masa lebaran, harga-harga dapat turun kembali. Inflasi secara umum
dapat terjadi karena jumlah uang beredar lebih banyak daripada yang dibutuhkan.
Inflasi merupakan suatu gejala ekonomi yang tidak pernah dapat dihilangkan
dengan tuntas. Usaha-usaha yang dilakukan biasanya hanya sampai sebatas
mengurangi dan mengendalikannya.
Inflasi disebabkan oleh kenaikan permintaan
dan kenaikan biaya produksi.
Dampak Inflasi
Inflasi tidak selalu berdampak buruk
bagi perekonomian. Inflasi yang terkendali justru dapat meningkatkan kegiatan
perekonomian. Berikut ini adalah akibat-akibat yang ditimbulkan inflasi
terhadap kegiatan ekonomi masyarakat.
a.
Dampak Inflasi terhadap Pendapatan :
Inflasi dapat mengubah pendapatan masyarakat. Perubahan dapat bersifat
menguntungkan atau merugikan. Pada beberapa kondisi (kondisi inflasi lunak),
inflasi dapat mendorong perkembangan ekonomi. Inflasi dapat mendorong para
pengusaha memperluas produksinya. Dengan demikian, akan tumbuh kesempatan kerja
baru sekaligus bertambahnya pendapatan seseorang. Namun, bagi masyarakat yang
berpenghasilan tetap inflasi akan menyebabkan mereka rugi karena penghasilan
yang tetap itu jika ditukarkan dengan barang dan jasa akan semakin
sedikit.
b.
Dampak Inflasi Terhadap Ekspor : Pada
keadaan inflasi, daya saing untuk barang ekspor berkurang. Berkurangnya daya
saing terjadi karena harga barang ekspor semakin mahal. Inflasi dapat
menyulitkan para eksportir dan negara. Negara mengalami kerugian karena daya
saing barang ekspor berkurang, yang mengakibatkan jumlah penjualan berkurang. Devisa yang diperoleh juga semakin
kecil.
c.
Dampak
Inflasi Terhadap Minat Orang untuk Menabung : Pada masa inflasi, pendapatan
rill para penabung berkurang karena jumlah bunga yang diterima pada
kenyataannya berkurang karena laju inflasi. Misalnya, bulan januria tahun 2006
seseorang menyetor uangnya ke bank dalam bentuk deposito satu tahun. Deposito
tersebut menghasilkan bunga sebesar, misalnya, 15% per tahun. Apabila tingkat
inflasi sepanjang januari 2006-januari 2007 cukup tinggi, katakanlah 11%, maka
pendapatan dari uang yang didepositokan tinggal 4%. Minat orang untuk menabung
akan berkurang.
d.
Dampak
Inflasi terhadap Kalkulasi Harga Pokok : Keadaan inflasi menyebabkan
perhitungan untuk menetapkan harga pokok dapat terlalu kecil atau bahkan
terlalu besar. Oleh karena persentase dari inflasi tidak teratur, kita
tidak dapat memastikan berapa persen inflasi untuk masa tertentu. Akibatnya,
penetapan harga pokok dan harga jual sering tidak tepat. Keadaan inflasi ini dapat
mengacaukan perekonomian, terutama untuk produsen.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar