BAB II
PEMBAHASAN
A.
PENGERTIAN ,KARAKTERISTIK,DAN RUANG LINGKUP
a.
Pengertian Sosiologi
Istilah
sosiologi pertama kali dicetuskan oleh seorang filsuf asal Perancis bernama
Auguste Comte dalam bukunya Cours de la Philosovie Positive. Orang
yang dikenal dengan bapak sosilogi tersebut menyebut sosiolog adalah ilmu
pengetahuan tentang masyarakat. Kata sosiologi sebenarnya berasal dari bahasa
Latin yaitu 'socius' yang berarti teman atau kawan dan 'logos'
yang berarti ilmu pengetahuan.
Disebutkan
oleh Auguste Comte di atas yang menyatakan sosiologi merupakan ilmu
pengetahuan.Sebuah pengetahuan dikatakan sebagai ilmu apabila mengembangkan
suatu kerangka pengetahuan yang tersusun dan teruji yang didasarkan pada
penelitian yang ilmiah.Sosiologi dapat dikatakan sebagai ilmu sejauh sosiologi
mendasarkan penelaahannya pada bukti-bukti ilmiah dan metode-metode ilmiah.
Sosiologi
adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari jaringan hubungan antara manusia dalam
bermasyarakat.Sedangkan secara luas sosiologi merupakan ilmu pengetahuan
tentang masyarakat dimana sosiologi mempelajari masyarakat sebagai kompleks
kekuatan, hubugan, jaraingan iteraksi, serta sebagai kompleks lembaga/penata.
Menurut para ahli
1. Pitirin Sorokin (1928: 760- 761), mengemukakan bahwa sosiologi adalah suatu
ilmu tentang timbal balik antara aneka macam gejala-gejala sosial, contohnya
antara gejala ekonomi dan nonekonomi.
2. Wiliam Ogburn dan Meyer F, Nimkoff ( 1959: 12-13 ) berpendapat bahwa
sosiologi adalah penelitian secara ilmiah terhadap interaksi sosial dan
hasilnya, yaitu organisasi sosial.
3. Roucekj dan Werren ( 1962: 3 ) berpendapat bahwa sosiologi adalah ilmu
tentang hubungan antara manusia dan kelompok-kelompoknya.
4. J.A.A.van Doom dan C.J. Lammers ( 1964: 24 ) mengemukakan bawha sosiologi
ilmu tentang struktur- struktur dan proses- proses kemasyarakatan yang bersifat
setabil.
5. Meta Spencer dan Alex Inkeles ( 1982:4 ) mengemukakan bahwa sosiolgi
ilmu tentang kelompok hidup manusia.
6. David Popenoe ( 1983: 107-108 ) berpendapat bahwa sosiologi adalah ilmu
tentang interaksi manusia dalam masyarakat sebagai suatu keseluruhan.
7. Selo Soemardjan dan Sulaeiman Soemardi (1982: 14 ) menyatakan bahwa
sosiologi adalah ilmu tentang struktur sosial dan proses-proses sosial,
termasuk perubahan-perubahan sosial.
Dengan demikian dari beberapa definisi sosiologi
ini, sosiologi sebagai disiplin ilmu tentang interaksi sosial, keleompok
sosial, gejala-gejala sosial, organisasi sosial, struktur sosila, proses
sosial, maupun perubahan sosial.
b.
Karakteristik Sosiologi
Karakteristik sosiologi menurut Soekanto ( 1986: 17 )
mencakup hal hal berikut:
1. Sosiologi merupakan bagian dari ilmu sosial, bukan merupakan bagian ilmu
pengetahuan alam maupun ilmu kerohanian. Perbedaan tersebut bukan semata-mata
perbedaan metode, namun menyangkut perbedaan substansi, yang kegunanya untuk
membedakan ilmu-ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan gejala-gejala alam
dengan ilmu-ilmu pengetahuan yang berhubungan gejala-gejala kemasayarakatan.
2. Sosiologi bukan merupakan disiplin yang normatif, melainkan suatu disipilin
yang bersipat kategoris. Artinya, sosiologi membatasi dri pada apa yang terjadi
pada saat ini, dan bukan mengenai apa yang semestinya terjadi atau seharusnya
terjadi. Dengan demikian, sosiologi dapat dikategorikan sebagai ilmu murni
(pure science), dan bukan merupakan ilmu terapan (applied science). Sebagai
ilmu murni sosiologi bukan disiplin yang normatif. Artinya sosiologi membatasi
diri pada apa yang terjadi saat ini, serta bukan mengenai apa yang terjadi
seharunya terjadi.
v
Sosiologi bertujuan untuk menghasilkan
pengertian-pengertian dan pola-pola umum (nomotetik).
v
Sosiologi merupakan ilmu sosial yang
empiris, faktual, dan rasional. Dalam istilah sepencer dan Inkeles (1982: 4)
dan Popenoe (1983: 5) mereka menyebutnya the science of the obvious atau jelas
nyata.
v
Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang
abstrak, bukan ilmu pengetahuan yang konkrit.
v
Sosiologi meruypakan ilmu pengetahuan yang
menghasilkan pengertian-pengertian dan pola-pola umum. Karena dalam sosiologi
meneliti dan mencari apa yang terjadi prinsip-prinsip atau hukum-hukum umum
dari pada interaksi anatar manusia dan juga prihal sipat hakikat, bentuk, isi,
dan stuktur dari masyarakat.
Dari penjelasan di atas dapat kita simpulkan bahwa
sosiologi sebagai ilmu yang memfokuskan pada kajian pola-pola interaksi
manusia, dalam perkembangannya sering kali lebih banyak dihubungkan dengan
kebangkitan modernitas. Menurut Zygmunt Banuman (2000:1023) keterkaitan
tersebut didasarkan alasan-alasan tertentu salah satunya adalah: mungkin
satu-satunya deniminator umum dari sejumlah besar mazhab pemikiran dan stategi
riset yang mengklaim mengandung sumber sosiologis adalah fokusnya pada
masyarakat.
Sosiologi merupakan disiplin ilmu yang memiliki cakupan luas
dan banyak cabang yang di persatukan, meskipun tidak terlalu kuat oleh strategi
hermeneutika dan ambisi untuk mengkoreksi kepercayaan umum. Garis batas bidang
tersebut mengikuti divisi fungsional serta lembaga di dalam organisasi
masyarakat yang menjawab tuntunan efektif dari bidang manajemen yang
telah mapan
c. Ruang Lingkup Sosiologi
Secara tematis, ruang lingkup sosiologi
dapat dibedakan menjadi beberapa subdisiplin sosiologi, sperti sosiologi
pedesaan (rural sociology), sosiologi industri (industrial sociology),
sosiologi perkotaan (urban sociology), sosiologi medis (medical sociology),
sosiologi wanita (woman sociology), sosiologi militer (military sociology),
sosiologi keluarga (family socciology), sosiologi pendidikan (educational
sociology), dan sosiologi seni (sociology of art).
1. Sosiologi pedesaan (Rural sociology)
Jurusan yang pertama kali mengkhususkan sosiologi pedesaan muncul dari
Amerika Serikat tahun 1930-an, kumudian muncul beberapa Akademik Land Grant
yang dibentuk dalam wilayah kewenangan Departemen Pertanian Amerika Serikat
untuk meneliti masalah pedesaan dan melatih ahli sosiologi serta ekstensionis
pedesaan untuk kerja sama lembaga-lembaga pemerintah beserta organisasi tani
(Hightower 1937).
2. Sosiologi Industri (Industrial Sociology)
Kelahiran bidang ini mendapat inspirasi dari pemikira-pemikiran Karl Marx,
Emile Durkheim, dan Max Weber, walaupun secara formal, sosiologi lahir dalam
kurun waktu antara Perang Dunia I dan II, serta secara matang tahun 1970-an
(Grint, 2000: 488). Dari pemikiran Karl Marx, setidaknya teori proletariat dari
tumbuhnya alienasi, serta eksploitasi ekonomi, pengaruhnya sangat dirasakan
pada saat perang dunia I dan II, manakala terjadi lonjakan pengangguran dan
krisis ekonomi dunia, walaupun realitanya pengaruh ini kurang
dominan.kemudian gagasan Emile Durkheim yang ditulis dalam buku Division of
Labour (1933), memerikan konstribusi yang berarti dalam sosiologi industri
terutama dengan konsep dan teorinya tentang norma dan bentuk solidaritas
sosial organik dan mekaniknya. Sedangkan dari pemikiran Weber, Merupakan
jantung dalam pembentukan sosiologi industri.
Sosiologi industri sejak tahun 1980-an terdapat empat tema,yaitu:
v Sosiologi industri yang menekankan gaya tradisional yang patriarkat, yang
memberikan peluang munculnya lini baru, yakni feminisme dalam riset.
v Runtuhnya komunisme di Eropa Timur
v Perkembangan teknologi informasi dan aplikasi-aplikasinya di bidang
manufaktur serta perdagangan.
v Asumsi bahawa pekerjaan dan produksi merupakan kunci identitas sosial tentang
argumen-argumen bahwa pola-pola konsumsi merupakan sumber identitas individu (Hall, 1992: 114).
3.
Sosiologi Medis (Medical Sociology)
Sosiologi medis merupakan bagian sosiologi yang kajiannya memfokuskan pada
pelestarian ilmu kedokteran, khususnya pada masyarakat modern (Amstrong, 2000:
643). Bidang ini berkembang pesat pada sejak tahun 1950-an sampai sekarang.
Setidaknya ada dua alesan yang mendorong pesatnya perkembangan bidang ini.
v Berhubungan dengan asumsi-asumsi dan kesadaran bahwa masalah yang terkandung
dalam perawatan kesehatan masyarakat modern adalah sebagai bagian integral
masalah-masalah sosial.
v Meningkatnya minat terhadap pengeboatan dalam aspek-aspek sosial dari
kondisi sakit (illnes), terutama berkaitan dengan pisikiatri (berhubungan dengan
penyakit jiwa), pediatri (kesehatan anak), praktik umum (penngobatan keluarga),
geriatrik (perawatan usia lanjut), dan pengobatan komunitas (Amstrong, 2000:
643-644).
Beberapa tulisan yang menghiasi
kelahiran sosiologi medis tahun 1950-an adalah Journal of Health and Human
Social Behavior. Dalam perkembangan selajutnya, khususnya tahun 1990-an, minat
terhadap studi detail kehidupan sosial pun dilibatkan yang meneliti ekspresi
dalam pengalaman sakit pasien. Pandangan pasien mengenai kondisi sakit ditelaah
sebatas sebagai bahan tambahan dari perilaku sakit berdasarkan posisi pasien
itu sendiri. Konsekuensi logis penerimaan pendapat tersebut yang sama
bermangfaatnya dengan bidang medis adalah munculnya kesadaran bahwa pengetahuan
medis tersebut dapat menjadi objek penting dalam sosiologi.
4.
Sosiologi Perkotaan (Urban Sociology)
Sosiologi urabn atau perkotaan adalah studi sosiologi yang menggunakan
berbagai statistik diantara dalam kota-kota besar. Kajiannya terutama
dipusatnkan pada studi wilayah perkotaan dimana zona indudtri, perdagangan, dan
tempat tinggal terpusat. Praktik ini merupakan penggunaan tata ruang dan
lingkungan kota besar dalam beberapa lokasi atau daerah miskin sebagai jawaban
atas beberapa kultur,etnis, dan bahasa yang berbeda, suatu mutu hidip yang
rendah, berbagai kelompok kesukuan yang berbeda dan untuk mengungkap suatu
standar hidup rendah, terutama bahwa semua fenomena-fenomena sosial ke arah
disorganisasi sosial.Sosiologi perkotaan baru dimuli di Eropa, perintisannya
sejak tahun 1920-an dan 1930-an walaupun resminya sejak awal tahun 1970-an yang
kemudia menyebar ke berbagai wilayah khususnya Amerika serikat.pada tahun
1970-an.selama dua puluh tahun sejak pengenalannya dari barat,dapat dibagi
menjadi tiga tahapan.
v Periode dari 1977-1985, ketika sosiologi urban prancis, terutama sekali
teori Manuael Castell peryataannya sangat berpengaruh.
v Dari 1986-1992, memusatkan pada teori pergerakan sosial dsan kensep global
di kota besar dalam suatu konteks pembaruan, terutama kota-kota di jepang.
v Dari 1992 sampai sekarang, ditandai oleh suatu perubahan bentuk sosiologi
perkotaan dalam suatu teori rugan kemayarakatan di bawah globalisasi yang telah
begitu besar memengaruhi pekerjaan David Harvey (Kazutaka Hasimoto, 2002).
Beberapa tema yang relevan dalam kajian sosioogi urban tersebut, di antaranya
populasi, geopolitk, ekonomi, dan lain-lain.
Mazhab Chicago adalah mazhab yang
berpengaruh besar dalam studi sosiologi perkotaan ini, setelah mempelajari k
ota kota besar pada awal abad ke-20 dan 21. Mazhab Chicago mash memiliki
peranan yang sangat penting. Banyak dari penemuan mereka yang berharga telah
menepatkan pengaruh mazhab tersebut sehingga masih dominan. Bahkan belakangan
ini telah berkembang Sosiologi Perkotaan Baru di bawah pengaruh tulisan Mark
Gonttidiener dan Ray Hutchison (2006). Yang menyajikan teks terobosan mereka
dalam suatu edisi baru ketiga. Buku tersebut diorganisir secara terpadu
perspektif paradigma sociospatial yang mempertimbangkan peran
yang dimiliki oleh faktor-faktor sosial, seperti ras, kelas, jenis kelamin,
gaya hidup, ekonomi, kultur dan politik pada pengembangan daerah metropolitan.
5.
Sosiologi Wanita (Woman Socology)
Lahir dan berkembangnya sosiologi wanita, di mana sejarah perintisnya
sejalan dengan perkembangan gerakan feminisme yang dipolopori oleh Mary
Wollstonecraft dalam bukunya A Vindication of the Ringt of Woman (1779),Kendati
akar-akar historinya dapat dilacak sejalan lahirnya sosiologi sebagai disiplin
akademik. Sosiologi wanita merupakan suatu prespektif meyeluruh tentanng
keanekaragaman pengalaman yang terstuktur bagi kaum wanita, dengan
mendefinisikan sosiologi wanita dalam arti pola-pola ketidakadilan yang
terstuktur, khususnya kerangka stratifikasi gender, yang dilakukan oleh kaum
wanita ialah mengembangkan suatu sosiologi oleh dan unuk wanita (Ollenburger
dan Moore, 1996).
Dilihat dari prspektif pendorong teori sosiologi wanita tersebut,
terdiri atas tiga kelompok kontributor sosiologi utama yang terpilih.
v Kelompok teoritis positivis atau fungsionalis, menegaskan bahwa tatanan
alamiah dominasi laki-laki sebagai suatu berbedaan terhadap argumen-argumen
mengenai hak-hak kaum wanita.
v Kelompok para teoritis konflik, melukiskan sistem-sistem penindasan yang
secara sistematis membatas kaum wanita.
v Kelompok alternatif, yakni klompok aktivis karya sosial dan interaksionis.
6.
Sosiologi Militer (Military Sociology )
Bidang ini menyoroti angkatan bersenjata sebagai suatu organisasi bertipe
khusus dengan fungsi sosial spesifik (Bredow, 2000: 664). Fungsi-fungsi
tersebut bertolak dari suatu tujuan organisasi keamanan dan sarana-sarananya,
kekuatan serta kekerasan. Terdapat lima bidang utama kajian sosiologi militer.
v Problem organisas internal yang menganalisis proses-proses dalam klompok
kecil dan ritual militer dengan tujuan untuk mengidentifikasi problem disiplin
dan matvasi, serta mengurakan cara-cara subkultrul militer dibentuk.
v Problem organisasional internal dalam pertempuran, di mana dalam hal ini
dianalisis termasuk seleksi para petingi militer, kepangkatan, dan evaluasi
motivasi pertempuran.
v Angkatan bersenjata dan masyarakat yang mengaji tentang citra profesi yang
berkaitan dengan dampak berubahan sosial dan teknologi, profil rekutmen
angkatan bersenjata, problem pelatihan dan pendidikan tentara serta peran
wanita dalam angkatan bersenjata.
v Militer dan politik. Dalam hal ini, dianalisis ada suatu perbandingan bahwa
pada demokrasi Barat riset milter, terfokus pada kontrol politik terhadap
jaringan militer, kepentingan ekonomi, dan administrasi lainnya.
v Angkatan bersenjata dalam sistem internasional. Dalam hal ini, dianalisis
dalam aspek-aspek keamanan nasional dan internasional, diseratai peralatan atau
perlengkapan dan pengendalianya, serta berbagai operasi pemeliharaan perdamaian
internasional.
7.
Sosiologi Keluarga (Family sociology)
Mempelajari pembentukan dan perkembangan keluarga, bentuk keluarga, fungsi
dan struktur keluarga, arah perkembangan keluaraga pada masa mendatang,
permasalahan yang dihadapi keluarga serta penyelesaiaannya, masalah
penyimpangan hubungan dengan sosialisasi,disorganisasi keluarga, dan masalah
keluarga berncana. Mencakup hubungan keluarga dengan sistem keluarga lainnya,
seperti sistem pendidikan, ekonomi. Pemerintahan, hubungan keluarga dengan
sistem nilai dan organisasi lainnya, serta implikasinya terhadap angkota
keluarga.
8.
Sosiologi Agama
Sosiologi agama merupakan sosiologi studi sosiologis yang mempelajari studi
ilmu budaya secara empiris, propan, dan positif yang menuju kepada praktik,
struktur sosial, latar belakang historis, pengembangan, tema universal, dan
peran agama dalam masyarakat (Goddijn, 1966: 36). Sosologi agama merupakan
cabang dari sosiologi umum yang bertujuan untuk mencari keterangan ilmiah
tentang masyarakat agama khususnya. Ditinjau dari sejarahnya, printisan
sosiologi agama sebenanya sejak lama dan hampir seusia dengan sosiologi itu
sendiri. Pengajian masalah agama secara ilmiah dan sistematis baru dilakukan
sekitar tahun 1900-an hingga pertengahan abad ke-20. Mulai saat itu muncullah
buku-buku sosiologi agama yang dikenal dengan priode sosiologi agama klasik
yang dipolopri Emil Durkheim(1858-1917), seoranng perintis sosiologis dari
prancis dalam bukunyaThe Elementary froms of Relegious Life dan Max Weber
(1864-1920) seorang sosiolog dari jerman dalam karyanya The Socilogy of Religion,
keduanya dikenal sebagai pendiri sosiologi agama. Dalam perkembangnnya,
sosiologi agama memiliki empat mazhab, yakni klasik, positivisme, teori
konflik, dan fungsisonalisme (Hendroppuspita, 1983: 24).
9.
Sosiologi Pendidikan (Sosilogy of
Education)
Merupakan bidang kajian sosilogi yang perintisnya selalau dengan sosiolog
pendidikan bernama Lester Frank Ward pada tahun 1883, yang menegaskan bahwa
untuk memperbaiki masyarakat diperlukan pedidikan (Ballantine, 1983: 11).
Selanjutnya, Ward menegaskan bahwa perbedaan kelas yang terjadi pada masyarakat
bersumber kepada perbedaan pemilikan kesempatan, terutama kesempatan dalam
memeperoleh pendidikan. Sebab perbedaan pemilikan kesempatan untuk memperoleh
pendidikan tersebut mengarah kepada monpoli pemilikan sumber-sumber sosial
maupun keadilan. Dengan berasumsi bahwa pada dasarnya manusia memiliki
kapasitas belajar yang sama. Bidang-bidang kajian materi sosilogy of
education meliputi.
v Hubungan sistem pendidikan dengan sistem sosial lain
v Hubungan sekolah dengan komunitas sekitarnya
v Hubungan antarmanusia dalam sistem pendidikan
v Pengaruh sekolah terhadap prilaku anak didik (Pavalko, 1976: 14-16).
10.
Sosiologi Seni
Istilah sosiologi seni (socilogy of art) sering digunakan dari
berbagai seni literatul sedanngkan, sosiologi seni visual relatif jarang
dikembangkan dibandingkan sosiologi literatur, drama maupun filem.
Implikasinya, sipat generik dari bidang kajian ini mau tidak mau menimbulkan
kesulitan dalam analisisnya karena tidak selalu terdapat hubungan linear antara
musik dan novel dengan konteks atau polotiknya (Wolff, 2000: 41). Namuan
demikian, sosiologi seni dapat dikatakan wilayah kajian yang cair karena
didalamnya tidak suatau model analisis atau teori yang dominan.
Walaupun sosiologi di awal kelahiranya pada abad ke-19 sangat dipengaruhi
oleh pemikiran-pemikiran yang bbersifat positivistik, khususnya bagi
pendiroinya Auguste Comte, namun dalam pendekatan sosiologi tidaklah absolut
bersifat kuantitatif, melainkan juga dapat menggunakan pendekatan kualitatif
(Soekanto, 1986: 36). Beberapa pendekatan yang banyak digunakan di Eropa dan
Amerika memang ada perbedaan, karena pendekatan sosiologi seni produksi- budaya
yang sering mendapatkan keritik karena dianggap mengabaykan produk budaya itu
sndiri. Pendekatan produksi-budaya (production of culture) memfokuskan
pada masalah hubungan sosial di mana karya seni itu diprodusi. Kebanyakan yang
menjadi fokus kajiannya di banyak negara, kecuali di Inggris (studi literatur),
yakni pada seni pertujukan yang menyajikan kompleksitas interaksi sosial yang
dianalisis
B.
PENDEKATAN,
METODE,TEKNIK,ILMU BANTU , DAN JENIS –JENIS PENELIATIAN
1.
Pendekatan
Pendekatan
sosiologi adalah suatu landasan kajian sebuah studi atau penelitian untuk
mempelajari hidup bersama dalam suatu masyarakat. Dalam kajian Sosiologi
Pendididikan kita akan menggunakan beberapa pendekatan (Approach) yaitu:
v
Pendekatan Kuantitatif yaitu suatu pendekatan yang mengutamakan bahan dan keterangannya
menggunakan angka sehingga gejala-gejalan yang di teliti dapat diukur dengan
menggunakan skala, indeks, table, dan formula yang menggunakan statistik.
v
Pendekatan Kualitatif yaitu suatu pendekatan yang selalu dikaitkan dengan epistomologi
interperatif dengan menekankan pada makna-makna yang terkandung di dalamnya.
v
Pendekatan Indvidu (The Individu
Approach) yaitu pendekatan yang memperhatikan
faktor individu secara utuh meliputi watak, intelegensi, psikologi, dan
kemampun psikomotorik. Untuk dapat mengerti tata kehidupan masyarakat
(kelompok) perlu dibahas tata kehidupan individu yang menjadi pembentuk
mayarakat itu, jikalau kita dapat memahami tingkah aku individu satu persatu
bagaiman cara berfikirnya, perasaannya, kemampuannya, perbuatnnya,sikapnya dan
sebagainnya atau tegasnya watak individu, bagaimana mefasilitasi individu, begitulah
seterusnya.
v
Pendekatan Sosial (The Sosial Approach) yaitu pendekatan yang memperhatikan faktor lingkungan sebagai lingkungan
tinggal induvidu dalam perkembangannya. Titik pangkal dari pendakatn
social ialah mayarakat dengan berbagi lembaganya, kelompok-kelompok dengan
berbagai aktivitas. Secara konkrit pendekatan social ini membahas aspek-aspek
atau komponen dari pada kebudayaan manusia, misalnya keluarga, tradisi, adat
istiadat, moralitas, norma-norma sosialnya dan sebagaimana. jadi segala sesuatu
yang dianggap produk bersama, milik bersama adalah masyarakat.
v
Pendekatan Interaksi (The Intraction
approach) yaitu pendekatan dengan memperhatikan pola hubungan
antara individu dalam lingkungannya. Di dalam pendekatan interaksional kita
memperhatikan faktor-faktor individu dan sosial. Dimana individu dan masyarakat
saling mempengaruhi dalam hubungan timbal balik antara individu dan masyarakat.
Yang mana interaksi yang terjadi mempunyai kekuatan saling membentuk dan
mempengaruhi dalam rangka saling menyempurnakan.
Macam-macam Interaksi Sosial:
Dilihat
dari sudut subjeknya, ada tiga macam Interaksi Sosial yaitu:
ü
Interaksi antara orangn perorangan
ü
Interaksi antar orang dengan
kelompoknya dan sebaiknya
ü
Interaksi antar kelompok
a. Dilihat dari segi caranya, ada 2 macam interksi sosial:
1)
Interksi langsung (Dirrect
Interction) yaitu interaksi fisik, seperi berkelahi, hubungan seks/kelamin
dan sebagainya.
2)
Interksi simbolik (Symbolik
Interaction), yaitu interakasi dengan mempergunakan bahasa (lisan/tertulis)
dan simbol-simbol lain (isyarat) dan lain sebagainya.
3)
Menurut bentuknya, selo sumardjan
membagi interaksi menjadi empat, yaitu:
v
Kerjasama (coopertion)
v
Persaingan (competition)
v
Pertikaian (conflict)
v
Akomodasi (accomodation) yaitu bentuk
penyelesaian dari pertikaian
Masyarakat indonesia termasuk tipe masyarakat kooperatif,
dengan cirinya yang khas yaitu "Gotong Royong"
2. Metode
Para
ahli sosiologi dalam penelitianya banyak menggunakan bebrapa metode penelitian,
diantaranya yaitu:
v
Metode Deskrptif sering disebut dengan metode
empiris yang menekankan pada kajian masa kini. Secara singkat metode ini yaitu
suatu metode yang berupaya mengungkap pengejaran atau pelacakan pengetahuan.
Metode ini dirancang untuk menemukan apa yang sedang terjadi, tentang siapa,
dimana, dan kapan. Dengan demikian, dalam metode ini pun termasuk metode survey
dengan jumlah sampel yang begitu banyak mengungkap dan mengukur sikap. Literary
Digest (1936).
v
Metode Ekspalantor merupakan bagian
metode empiris. Popenoe (1983: 28) mengemukakan bahwa jika saja dalam
deskriptif lebih banyak bertanya tentang apa, siapa, kapan, dan dimana.dalam
studi ekspalantor lebih banyak menjawab mengapa dan bagaimana. Oleh karena
itu, metode ini bersifat menjelaskan atas jawaban dari pertanyaan “mengapa” dan
“bagaimana”.
v
Metode historis Komparatif menekankan
pada analisis atas peristiwa-peristiwa masa silam untuk merumuskan
prinsif-prinsif umum, yang kemudian digabungkan dengan metode komparatif,
dengan menitikberatkan pada perbandingan antara berbagai masyarakat beserta bidangnya
untuk memperoleh perbedaan dan persamaan, serta sebab-sebabnya.
v
Metode Studi Kasus merupakan suatu
penyelidikan mendalam darin suatu individu, kelompok, atau institusi untuk
menetukan variabel itu, dan hubunganya diantara variabel memengaruhi
status atau prilaku yang saat itu menjadi pokok kajian (Fraenkel dan Wallen,
1993: 548).
v
Metode Survei salah satu bentuk dari
penelitian yang umum dalam ilimu-ilmu sosial
3. Teknik Pengumpulan Data
Beberapa
tekinik pengumpulan data yang banyak digunakan dalam kajian sosiologi,
diantaranya adalah sosiometri, wawancara, observasi, dan observasi partisipan.
a. Sosiometri
Dalam
sosiometri berusah meneliti masyarakat secara kuantitatif dengan menggunakan
skala dan angka untuk mempelajari hubungan antara manusia dalam suatu
masyarakat. Bidang ini merupakan bidang keahlian psikologi yang mempelajari,
mengukur, dan membuat diagram hubungan sosial yang ada pada kelompok kecil
(Horton dan Hunt, 1991: 235).
b. Wawancara atau Interview
Teknik
ini adal;ah situasi peran antara pribadi yang bertemu muka (face to face)
ketika seseorang, yakni pewawancara mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang
dirancang untuk memperoleh jawaban yang relevan dengan masalah penelitian
kepada seseorang yan diwawancarai atau responden (Supardan, 2004: 159).
c. Observasi
Observasi
adalah pengamatan yang diperoleh secara langsung dan teratur untuk memperoleh
data penelitian.
d. Observasi Partisipan
Bentuk
pengamatan yang menyeluruh dari semua jenis metode atau strategi (Patton,
1980). Dalam hal ini, peneliti turut serta dalam berbagai peristiwa dan
kegiatan sesuai dengan yang dilakukan oleh subjek penelitian.
4. Ilmu Bantu
Sosiologi
Dalam
kajian sosiologi memerlukan banyak ilmu bantu yang dapat menopang kelancarandan
kedalaman kajian sosiologi tersebut. Beberapa ilmu bantu yang sering digunakan
dalam sosiologi seperti statistik, psikologi, etnologi, arkeologi, dan
antropologi. Di samping ilmu-ilmu sosial adapun ilmu-ilmu lainya seperti
sejarah, ekonomi, antropologi, politik, hokum maupun gerografi.
a. Statistik
Statistik
sangat diperlukan dalam ilmu sosiologi terutama dalam perhitungan-perhitungan
yang menyangkut pendekatan kuantitatif agar hasilya akurat, lebih valid, dan
terukur.
b. Psikologi
Psikologi
sangat diperlukan dalam kajian sosiologi karena dalam psikologi dapat
diperoloeh keterangan, baik latar belakang seseorang berperilaku maupun
proses-proses mental yang diperlukan keterangan-keteranganya.
c. Etnologi
Etnologi
adalah ilmu tentang adat istiadat dalam suatu bangsa. Ilmu ini sangat
diperlukan dalam ilmu sosiologi karena dalam sosiologi menyangkut
tradisi-tradisi yang berkembang.
d. Arkeologi
Arkeologi
adalah ilmu yang mempelajari tentang peninggalan ataupun kebudayaan klasik dari
suatu bangsa yang telah silam. Peninggalan dan kebudayaan klasik ini sangat
penting karena kebudayaan tua sekalipun pada hakikatnya adalah hasil usaha
bersama dari suatu masyarakat yang di telitinya.
5. Jenis Penelitian Sosiologi
a)
penyelidikan lengkap: Dalam penelitian ini berusaha
untuk dicari secara teliti segala fakta-fakta dan kemudian ditarik
kesimpulan-kesimpulan yang diambil dari fakta-fakta tersebut. Dengan demikian
sesudah membuat definisi tentang substansi kajian yang kemudian meneliti
kebenaran maupun kekurangan hipotesis-hipotesis itu, peneliti juga harus
mempertanyakan fakta apa yanag ada dalam kajian itu. Selanjutnya setelah
fakta-fakta diperiksa secara teliti, juga peneliti harus menyimak
pendapat-pendapat para ahli lainnya tentang masalah yang sama, walaupun
pendapat-pendapat tersebut tidak akan mempengaruhi kebenaran/kesalahan dari
temuan yang diselidiki tersebut. Namun selama penelitian ilmiah tersebut
dilakukan, peneliti harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut: Betulkah bahwa
kesimpulan itu sesuai dengan fakta yang tersedia? Betulkah fakta-fakta itu
digunakan dengan jujur dari sesuatu prasangka yang tidak menyebelah ? Cukup
banyakkan fakta-fakta itu untuk dapat dianggap bahwa kejadian itu dianggap umum
? Cukup benarkah induksi dan deduksi yang digunakan serta logika yang sehat benar-benar
diperlukan ?
b)
penelitian fact finding, yaitu merupakan
penelitian dari suatu hasil penemuan fakta penelitian, tentang sesuatu hal yang
benar-benar berdasar dari fakta-fakta yang ada untuk membuat laporan yang dapat
dipercaya. Sebut saja sebagai contoh tentang pemberontakan ataupun gerakan
disintegrasi bangsa dari sekelompok suku bangsa tertentu terhadap pemerintah
yang resmi. Dalam hal ini peneliti harus meneliti dari faktor-faktor penyebab
pemberontakan/gerakan tersebut. Laporan-laporan yang telah ada tentang
karakteristik, dan ketidakpuasan suku tersebut dari dulu hingga sekarang.
Sikap-sikap pemerintah yang dianggap kurang kondusif memupuk persatuan dan
kesatuan bangsa. Fakta-fakta tersebut kemudian dikumpulkan dari dokumen-dokumen
yang ada, hasil observasi-observasi, dari wawancara-wawancara, maupun isu-isu
yang berkembang dan sebagainya.
c)
penelitian interpretasi kritis: Penelitian ini juga lazim
dilakukan dalam sosiologi. Dalam hal ini peneliti pada umumnya tidak tersedia
cukup mempergunakan faktafakta, karena yang dikumpulkan itu hanyalah merupakan
analisis-analisis maupun uraianuraian tentang sesuatu fakta yang sedikit
tersedia. Dengan demikian diperlukan analitis kritis seorang peneliti untuk
meyakinkan pembaca ataupun peneliti lainnya dalam memahami hasil-hasil
penelitiannya. Bisaanya baik penelitian fact finding maupun interpretasi kritis
hanya sekedar pembuatan laporan penelitian dan tidak memberikan
kesimpulan-kesimpulan yang lengkap atas fakta-faktanya.
C.
KEGUNAAN
SOSIOLOGI
Sebagai ilmu pengetahuan sosial yang objeknya
masyarakat, sosiologi tentu memiliki kegunaan dalam beberapa bidang yang antara
lain :
1. Perencanaan Sosial
Perencanaan
sosial merupakan kegiatan untuk memenuhi kebutuhan generasi sekarang tanpa
membahayakan kelangsungan kehidupan generasi mendatang. Kegiatannya berupa
pengarahan-pengarahan dan bimbingan sosial mengenai ciri-ciri hidup masyarakat
yang lebih baik.Perencanaan sosial lebih bersifat preventif untuk mengatasi
berbagai hambatan.Kegunaan sosiologi dalam
perencanaan sosial :
a) Sosiologi
memahami perkembangan kebudayaan masyarakat tradisional maupun modern.
b) Sosiologi memiliki disiplin ilmiah yang
didasarkan atas objektivitas.
c) Secara sosiologis suatu perencanaan sosial dapat
dimanfaatkan untuk mengetahui tingkat ketertinggalan dan tingkat kemajuan
masyarakat dari sudut kebudayaannya seperti perkembangan IPTEK.
d) Sosiologi memahami hubungan manusia dengan
lingkungan alam, hubungan antar golongan pengaruh inovasi (penemuan baru)
terhadap masyarakat.
e) Perencanaan sosial merupakan alat untuk
mengetahui perkembangan masyarakat
2. Penelitian
Dalam
bidang penelitian masyarakat, sosiologi memiliki kelebihan dibanding ilmu-ilmu
lainnya karena:
1)
Memahami simbol kata-kata, kode dan berbagai
istilah yang digunakan masyarakat sebagai objek penelitian empiris.
2)
Pemahaman terhadap pola-pola tingkah laku manusia
dalam masyarakat.
3)
Kemampuan mempertimbangkan berbagai fenomena sosial
yang timbul dalam kehidupan masyarakat, lepas dari prasangka-prasangka
subjektif.
4)
Kemampuan melihat kecenderungan-kecendrungan ke
arah perubahan pola tingkah laku anggota masyarakat atas sebab-sebab tertentu.
5)
Kehati-hatian dalam menjaga pemikiran yang rasional
sehingga tidak terjebak dalam pola pikir yang tidak jelas.
3.
Pembangunan
Proses
pembangunan terutama ditujukan untuk meningkatkan taraf hidup rakyat baik
secara material maupun secara spiritual yang meliputi hal-hal sebagai berikut :
a.
Pembangunan harus bersifat rasionalistis
b.
Adanya perencanaan dan proses pembangunan
c.
Peningkatan produktivitas
d.
Peningkatan standar kehidupan
e.
Kesempatan yang sama untuk berpartisipasi
Tahap-tahap
dalam pembangunan :
a)
Perencanaan
Perlu
diadakan identifikasi terhadap berbagai macam kebutuhan masyarakat.
b)
Penerapan
Perlu
diadakan penyorotan terhadap kekuatan dalam masyarakat.
c)
Evaluasi
Keberhasilan
pembangunan hanya dapat dinilai melalui evaluasi dan dapat diidentifikasi
tentang adanya kekurangan, kemacetan, kemunduran dan kemerosotan
4.
Pemecahan Masalah Sosial
Masalah
sosial adalah suatu ketidak sesuaian antara unsur-unsur kebudayaan dan
masyarakat yang membahayakan kehidupan masyarakat.
Masalah sosial bersumber dari faktor-faktor berikut
:
a. Faktor
ekonomis :
Kemiskinan, pengangguran, bencana alam.
b. Faktor
biologis :
Penyakit menular, wabah.
c. Faktor psikologis :
Bunuh diri, sakit jiwa.
d. Faktor
kebudayaan :
Perceraian, kenakalan remaja, konflik etnis.
Perubahan yang terjadi secara terus menerus pad
masyarakat yang saling berkembang seperti Indonesia menimbulkan disorganisasi
dalam masyarakat yang menyebabkan munculnya masalah sosial, seperti :
a.
Desintegrasi keluarga
b. Kenakalan
remaja
c. Kemiskinan
d. Kejahatan
e. Peperangan
f. Pelanggaran
terhadap norma
g. Masalah
kependudukan
Metode-metode
sosiologi yang dipakai dalam memecahkan masalah sosial adalah preventif dan
metode represif.Metode preventif lebih sulit dilakukan karena harus benar-benar
didasarkan pada penelitian yang sangat mendalam tentang sebab-sebab terjadinya
masalah sosial, sedangkan metode represif dilakukan setelah suatu gejala dapat dipastikan
sebagai masalah sosial barulah diambil tindakan-tindakan untuk mengatasi
masalah sosial itu. Dalam mengatasi masalah sosial diperlukan suatu kerja sama
lintas ilmu pengetahuan masyarakat bukan dari aspek sosiologis saja.
D.
Sosiologi
Sebagai Ilmu Obvious (Nyata)
Banyak
orang sering memperdebatkan tentang sifat ilmu sosiologi itu.Tidak sedikit yang
mengemukakan bahwa sosiologi sebagaimana layaknya ilmu sosial, tidak jauh
berbeda dengan ilmu-ilmu sosial lainnya.Tetapi di balik itu semua nampak juga
yang menekankan bahwa jika sosiologi ingin tetap merupakan sebuah ilmu
pengetahuan, maka harus merupakan suatu ilmu pengetahuan yang jelas nyata
(Poepenoe, 1983:5).
Para
ahli sosiologi, sering berkata, kita banyak menghabiskan uang untuk
"menemukan" apa yang sebetulnya hampir semua orang telah
mengetahuinya. Keberadaan masalah ini disebabkan oleh karena dalam sosiologi
dihadapkan dengan dunia masyarakat yang sebetulnya tidak begitu aneh, di mana
orang-orang yang secara umum sudah akrab ataupun mengenalnya konsep-konsep yang
diperkenalkan dalam bidang sosiologi. Sebaliknya, sebagai pembanding, dalam
pokok kajian pada kelompok ilmu-ilmu kealaman adalah sering berada di
luar dunia dari pengalaman kita sehari-hari. Maka untuk menjawab atas
permasalahan dalam ilmu pengetahuan alam, hal yang paling sering bahwa temuan
kajian itu memberikan dalam ungkapan bahasa dan simbol-simbol di mana
kebanyakan orang hampir tidak memahaminya atau benar-benar dibawa dalam
pengenalan konsep yang benar-benera baru.
Sekali
lagi, penyebabnya hanyalah bidang kajian dalam sosiologi adalah hal-hal yang
terbiasa kita kenal. Oleh karena itu implikasinya dari karena ‘sudah biasa’ dan
familiar itu maka untuk memperoleh sesuatu yang ‘baru’ itu harus ditelitinya
secara ekstrim dengan sangat seksama dan hati-hati. Adanya
pernyataan-pernyataan yang menekankan pentingnya akal sehat (common-sense), dan
pertimbangan atau pemikiran (reasoning) memberikan dukungannya terhadap
sosiologi, memang tidak boleh diabaikan tetapi juga sering menyesatkan. Dalam
hal ini, ambil, sebagai contoh permasalahan dalam ‘bunuh diri’, yang telah
menjadi penyebab kedua terbanyak tentang faktor penyebab kematian (setelah
kecelakaan) di antara anak-anak muda di Amerika Serikat.
Secara
akal sehat dan berdasarkan pertmbangan-pertimbangan, anda akan katakan bahwa
meningkatnya bunuh diri di Amerika Serikat, berkaitan dengan:
1.
Penyebab
di mana hal itu merupakan semacam suatu waktu depresi tahunan, orang-orang
lebih banyak melakukan bunuh diri pada waktu musim dingin dibanding musim
panas.
2.
Sebab
mereka adalah yang orang-orang yang memiliki tingkat ketergantungan tinggi,
obat-obatan, dan di sini kaum wanita lebih tinggi untuk melakukan bunuh diri
daripada laki-laki.
3.
Lebih
banyak orang-orang yang muda yang melakukan bunuh diri dibanding orang-orang
tua. Di mana yang muda, penyebab stress dan ketidak-pastian hidup adalah jauh
lebih besar.
4.
Dalam
kaitannya dengan ketidaksamaan dan diskriminasi, kulit hitam mempunyai suatu
tingkat bunuh diri lebih tinggi dibanding dengan kulit putih, tiap
tahunnya.
5.
Kondisi
kehidupan yang miskin, tingkat angka bunuh diri di negara berkembang adalah
jauh lebih tinggi dibanding dengan masyarakat industri maju.
Ternyata
riset sosiologi telah menunjukkan masing-masing pernyataan tersebut merupakan jawaban-jawaban
yang semu ataupun palsu (Gibbs, 1968). Angka bunuh diri adalah lebih tinggi
sepanjang bulan musim panas dibanding musim dingin.. Pada sebagian lagi, hal
ini adalah disebabkan orang-orang merasa depresi ketika cuaca yang panas dan
sesuatu yang ia harapkan untuk menikmati waktu bersenag-senang ia yang ia
sangat nantikan ternyata ibarat mendaki yang terjal di bebatuan..Karena
sejumlah pertimbangan dan pikiran akal sehat kita, ternyata angka bunuh diri
kaum laki-laki jauh lebih tinggi dibanding perempuan. (walaupun kaum wanita
mencoba bunuh diri lebih sering dibanding yang dilakukan laki-laki). Tingkat
bunuh diri yang dilakukan kaum tua juga lebih tinggi daripada yang muda, di
mana sebagian disebabkan oleh kesehatan yang sakit-sakitan.Dan tingkat bunuh
diri di antara kulit hitam dan di negara berkembang secara relatif adalah
rendah.Mungkin nampak aneh kedegarannya, tetapi bukti menunjukkan bahwa tingkat
bunuh diri adalah jauh lebih tinggi dari mereka, di mana umumnya adalah
negara-negara yang makmur dan rata-rata berpendidikan cukup baik.
Bukti-bukti
adanya peningkatan yang tajam dalam bunuh diri bahwa terjadi ketika masyarakat
menjadi lebih maju, fakta ini dikumpulkan pertama kali secara sistematis oleh
salah seorang pendiri sosiologi, Emile Durkheim (1858-1917). “Suicide” judul
bukunya itu (1897) adalah salah seorang dari pelopor studi ilmiah dalam
sosiologi. Studi bunuh diri sejak itu telah menjadi suatu bidang kajian riset
yang penting dan menarik, sering mengejutkan dan menemukan hal-hal yang aneh
seperti tulisan Durheim..Apa yang dapat kita pelajari dari pernyataan tentang
bunuh diri tersebut?. Pernyataan akal-sehat dan pertimbangan ataupun pemikiran
yang beralasan untuk mendukungnya, ternyata dapat menyesatkan dan sering
hal itu terjadi. Di situlah sosiologi sebagai science of the obvious hanya bisa
dilakukan melalui kajian-kajian yang penuh kehati-hatian dan obyektif, bahwa
kita dapat mengetahui dengan penuh percaya diri dalam menjawab banyak
pertanyaan tentang tingkah laku manusia dan masyarakat kita.
E.
SEJARAH
PERKEMBANGAN SOSIOLOGI
a. Pada Zaman Keemasan Yunani
Tokoh ilmu sosiologi dalam
masa ini adalah Plato (429 – 347 SM). Pada masa itu Palto sangat terkenal
karena berhasil merumuskan teori organis mengenai masyarakat yang mencakup
kehidupan sosial dan masyarakat, menganggap bahwa instansi dalam maysrakat
sangat bergantung satu dengan yang lain secara fungsional sehingga mereka harus
bekerjasama.
Kemudian Aristoteles (384 –
322 SM) berpendapat bahwa masyarakat adalah organism hidup yang berdasar pada
moral sehingga kerukunan, toleransi harus dimasukkan kedalam nilai – nilai
hidup bermasyarakat.
b. Pada Zaman Renaissance (1200
– 1600)
Pada masa ini muncul tokoh
yaitu Machiavelli yang berpendapat bahwa politik dan moral dipisahkan sehingga
terjadi pendekatan mekanis terhadap masyarakat.Kemudian berkembangalah teori
politik sosial dimana pemerintah menjadi pusat mekanismenya.
c. Pada Abad Pencerahan (abad 16
dan 17)
Tokoh pada masa ini adalah
Thomas Hobbes (1588 – 1679) dengan bukunya “The Leviathan”.Ajaran Thomas banyak
diilhami oleh hukum alam, fisika dan matematika.Pada masa ini muncuk kontrak
sosial dimana muncul karena adanya pandangan yang bersifat hukum sebagai akibat
mulai ditinggalkannya pengaruh keagamaan oleh pengaruh kemasyarakatan atau
keduniawian.
d. Pada Abad ke 18
John Locke (1632 – 1704) yang
dianggap sebagai Bapak Hak Asasi Manusia (HAM). Dia berpendapat bahwa setiap
manusia mempunyai hak dasar sangat pribadi yang tidak dapat dirampas oleh
siapapun termasuk oleh negara (seperti hak hidup, hak berpikir, hak berbicara,
berserikat dan lain – lain).
Selain itu terdapat tokoh
lain yaitu, J.J Rousseu (1712 – 1778) yang masih berpegang pada kontrak sosial
Hobbes, bahwa kontrak antara pemerintah dan rakyat menyebabkan munculnya
kolektivitas yang mempunyai keinginan sendiri – sendiri dan berkembang menjadi
keinginan umum. Keinginan umum inilah yang menjadi dasar kontrak sosial negara
dengan rakyatnya.
e. Pada Abad ke 19
Pada abad ini ilmu sosiologi
mulai diperkenalkan oleh Aguste Comte (1798 – 1853) yang didsarkan pada
perkembangan interaksi antara sosial dan industrialis. Pada masa ini sosilogi
mulai dapat mandiri disebabkan sosiologi bisa munjukkan obyeknya yaitu
interaksi manusia, namun dalam pengembangannya masih menggunakan ilmu lain
contoh ilmu ekonomi.
f. Pada Abad 20
Masa ini sosiologi bisa
dikatakan mandiri karena :
1.
Mempunyai
obyek khusus yaitu interaksi antar manusia
2.
Mengembangkan
teori sosiologi
3.
Mampu
mengembangkan metode khusus untuk pengembangan sosiologi
4.
Sosiologi
sangat relevan dengan perkembangan karena banyak pembanguna yang gagal
dikarenakan tidak memperhatikan masukan dari sosilog.
g. Timbulnya Sosiologi Modern
Seorang yang berpengaruh
dalam proses perubahan ini adalah sosiolog dari perancis bernama Emile Durkheim
(1858 – 1917) dengan buku Rule Of Sociological Method. Beliau sangat pintar
dalam mengkaji ilmu – ilmu secara empiris dalam membentuk teori sosiologis,
oleh karenanya Beliau disebut sebagai Bapak Pelopor Sosiolog Modern.
Kemudian muncullah tokoh W.I
Thomas (1863-1947), yang berperan dalam perkembangan ilmu sosilogi di Amerika
dengan laporannya yang terkenal yang terdiri dari lima jilid, yaitu mengenai
keberhasilan petani Polandia yang berimigrasi di Amerika.
Ilmuwan Herbert Spencer 1176,
Beliau menggabungkan teori evolosi sosial dengan mengaplikasikan teori Charles
Darwin, bahwa terjadinya evolusi secara gradasi dari suatu masyarakat primitive
kearah masyarakat industry.
Seorang Sosiolog Amerika
Listerward (1883) dengan karyanya Dynamic Sosiology menjelaskan tentang
pergerakan aktivitas sosial yang hubungannya dilakukan oleh para sosiolog.
Max Webber (1884-1920)
menjelaskan bahwa metode dalam ilmu pengetahuan alam tidak dalam diterapkan
dalam pengumpulan data ilmu sosial.Webber menjelaskan studi ilmu sosial
berdasarkan gejala dalam dalam dunia kehidupan bersama, maka seharusnya
dipahami dengan subjektifitas yang derajatnya diukur oleh peneliti sosiolog
yang dilaksanakan oleh manusia juga.
h. Perkembangan di Indonesia
Di Indonesia dimulai sejak
sebelum perang dunia II. Tokoh yang memperkenalkan adalah para pujangga antara
lain : Sri Paduka Mangkunegara IV dari Surakarta, mengajarkan Wulang Reh, yaitu
tata hubungan antar masyarakat jawa dari berbagai macam golongan di Jawa.
Kemdian Ki Hajar Dewantara, dengan konsep kepemimpinan dan kekeluargaan yang
diterapkan di Organisasi Taman Siswa.
Setelah Perang dunia II,
muncul berbagai akademisi antara lain Akademi Politik di Fakultas Sosial
Politik Gajah Mada. Kemudian terbitnya buku karangan M.R Djody Gondokusuman
dengan judul Sosiologi Indonesia dll.
BAB
III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
a.
Pengertian ,karakteristik,
dan ruang lingkup sosiologi
Sosiologi adalah ilmu
pengetahuan yang mempelajari jaringan hubungan antara manusia dalam
bermasyarakat.
Karakteristik
sosiologi menurut Soekanto ( 1986: 17 ) mencakup hal hal berikut:
v Sosiologi merupakan bagian dari ilmu sosial, bukan merupakan bagian ilmu
pengetahuan alam maupun ilmu kerohanian
v Sosiologi bukan merupakan disiplin yang normatif, melainkan suatu disipilin
yang bersipat kategoris. Artinya, sosiologi membatasi dri pada apa yang terjadi
pada saat ini, dan bukan mengenai apa yang semestinya terjadi atau seharusnya
terjadi.
Secara
tematis, ruang lingkup sosiologi dapat dibedakan menjadi beberapa subdisiplin
sosiologi, sperti sosiologi pedesaan (rural sociology), sosiologi industri
(industrial sociology), sosiologi perkotaan (urban sociology), sosiologi medis
(medical sociology), sosiologi wanita (woman sociology), sosiologi militer
(military sociology), sosiologi keluarga (family socciology), sosiologi
pendidikan (educational sociology), dan sosiologi seni (sociology of art).
b.
Pendekatan
,metode, teknik, ilmu bantu, jenis-jenis penelitian
Walaupun sosiologi diawal
kelahirannya pada abad ke-19 sangat dipengaruhi oleh pemikiran-pemikiran yang
bersifat positivistik khususnya bagi pendirinya Auguste Comte, namun dalam
pendekatannya sosiologi tidaklah absolut bersifat kuantitatif, melainkan juga
dapat menggunakan pendekatan kualitatif (Soekanto, 1986: 36).
Para ahli sosiologi dalam
penelitiannya banyak menggunakan beberapa metode penelitian, diantaranya:
v Metode
Deskriptif
v metode
eksplanatori
v metode
historis-komparatif:
v metode
fungsionalisme
v metode
studi kasus
v metode
survey
Beberapa teknik pengumpulan
data yang banyak digunakan dalam kajian sosiologi, di antaranya adalah
sosiometri, wawancara, observasi, dan observasi partisipan. Untuk mempermudah
pemahaman beberapa teknik yang sering digunakan dalam kajian sosiologi
tersebut,
Jenis Penelitian Sosiologi
Dalam peneltian sosiologi (Shadily, 1980: 50-52), kita setidaknya mengenal tiga
macam penelitian sosiologi, yakni: penelitian lengkap, penelitian fact finding,
dan penelitian interpretasi kritis.
kegunaan sosiologi untuk
mengetahui, mengidentifikasi, dan mengatasi problema-problema sosial (Soekanto,
1986: 339-340). Adapun beberapa problema sosial tersebut, dilihat fokus
kajiannya secara makro dapat dibedakan berdasarkan bidang-bidang
keilmuannya.Sebagai contoh problemaproblema yang berasal dari faktor ekonomi
seperti; kemiskinan dan pengangguran.Problema sosial yang disebabkan oleh
faktor kesehatan, misalnya; terjangkitnya penyakit menular, rendahnya angka
harapan hidup, serta tingginya angka kematian.Problema sosial yang disebabkan
oleh faktor psikologis misalnya meningkatnya fenomena neurosis (sakit syaraf),
tingginya penderita stress, dan sebagainya. Lain lagi dengan problema sosial
yang disebabkan oleh faktor politik, misalnya; tersumbatnya aspirasi politik
massa, meningkatnya sistem pemerintahan yang otoriter, ataupun tidak
berfungsinya lembaga-lembaga tinggi negara (legislatif, eksekutif, maupun
yudikatif).
Sosiologi sebagai ilmu yang
nyata Banyak orang sering memperdebatkan tentang sifat ilmu sosiologi itu.Tidak
sedikit yang mengemukakan bahwa sosiologi sebagaimana layaknya ilmu sosial,
tidak jauh berbeda dengan ilmu-ilmu sosial lainnya.Tetapi di balik itu semua
nampak juga yang menekankan bahwa jika sosiologi ingin tetap merupakan sebuah
ilmu pengetahuan, maka harus merupakan suatu ilmu pengetahuan yang jelas nyata
(Poepenoe, 1983:5).
Perkembangan Awal Para pemikir Yunani Kuno,
terutama Sokrates, Plato, dan Aristoteles, beranggapan bahwa masyarakat
terbentuk begitu saja.Masyarakat mengalami perkembangan dan kemunduran tanpa
ada yang bisa mencegah.Kemakmuran dan krisis dalam masyarakat merupakan masalah
yang tidak terelakkan.
Abad Pencerahan: Rintisan
Kelahiran Sosiologi Sosiologi
modern berakar pada karya para pemikir Abad Pencerahan; abad XVII Masehi. Abad
itu ditandai oleh beragam penemuan di bidang ilmu pengetahuan.
Abad Revolusi: Pemicu
Lahirnya Sosiologi Perubahan
pada Abad Pencerahan membawa perubahan revolusioner sepanjang abad XVIII
Masehi. Perubahan itu dikatakan revolusioner karena struktur (tatanan)
masyarakat lama dengan cepat berganti dengan struktur yang baru. Revolusi
sosial yang paling jelas tampak dalam Revolusi Amerika, Revolusi Industri, dan
Revolusi Prancis, Ketiga revolusi itu berpengaruh ke seluruh dunia
B. SARAN
Sebagai
manusia yang tak luput dari kesalahan, pemakalah menyadari sepenuhnya bahwa
masih banyak terdapat kekurangan. Baik dalam penulisan,maupun argumen-argumen
yang tentunya di buat oleh manusia itu sendiri. Maka dari itu pemakalah
mengharapkan kritik dan saran dari teman-teman dan terutama kepada dosen
pembimbing, demi kelancaran pembuatan makalah berikutnya. Atas saran dan
kritikanya untuk kedepanya pemakalah ucapkan trimakasih.
DAFTAR PUSTAKA
Idianto Muin. 2013. Sosiologi untuk SMA / MA Kelas X. Kelompok Peminatan Ilmu-Ilmu Sosial.
Jakarta: Erlangga
Dirjosisworo, S. 1982. Pokok-pokok Sosiologi Sebagai Penunjang Studi hukum. Bandung: Ofste
Alumni.
Ismail, Rita. 2007. Sosiologi
Keperawatan. Yogyakarta: EGC.
.Soehartono, I. 1995. Metode Penelitian Sosial. Bandung:
Remaja Rosdakarya.
Supardan, D. 2009. Pengantar Ilmu Sosial. Jakarta: Bumi Aksara.
Yunus, Rosman. 2006. Teori Darwin dalam Pandangan Sains dan Islam.
Yogyakarta: Gema Insani
Zeitlin, Irving. 1995. Memahami Kembali Sosiologi. Yogyakarta:
Gadjah Mada University Press.
SEMOGA BERMANFAAT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar